Selasa, 09 Desember 2014

0 komentar

Ciri-ciri Cinta Karena Allah


Mungkin sebagian besar orang merasa sangat sulit atau bahkan mustahil mencintai karena Allah. Sebab mereka memahami mencintai karena Allah atau mencintai semata-mata karena ingin mendapatkan rido Allah, itu harus lepas dari alasan karena fisik, materi, kagum, dan nafsu. Padahal maksud mencintai karena Allah, sebenarnya tidak begitu. Jika harus lepas dari itu semua, berarti harus membuang fitrah atau qudrah seorang manusia. Yang namanya manusia pasti tidak akan lepas dari itu semua, khususnya ketika hendak mencintai seseorang.
Lalu bagaimana caranya untuk mencapai cinta karena Allah? Cinta karena Allah merupakan maksud dari pencapaian untuk mendapatkan rido Allah. Untuk mendapatkan rido Allah sudah pasti ada caranya. Cara tersebut adalah melakukan setiap sesuatu sesuai syari’at Allah. Dalam hal cinta, Allah sudah menyediakan cara untuk meraih cinta karena Allah. Yaitu pernikahan. Allah men-syari’at-kan pernikahan sebagai cara bagi anak manusia untuk meraih cinta karena Allah.
Jadi, cirri-ciri mencintai karena Allah adalah ada niat untuk menikah, meskipun ada embel-embel karena fisik, materi, kagum, atau bahkan nafsu. Sebenarnya embel-embel inilah yang membuat anak manusia ada keinginan menikah. Selain itu, memang qudrah dan fitrah manusia. Hal ini mungkin bagi mereka yang baru mulai menjalin cinta, dan sudah masuk usia layak menikah atau sudah siap menikah. Namun, bagi selain yang tidak layak atau siap menikah, mereka menjalin cinta tidak ada niatan menikah. Mereka menjalin karena ingin happy bersama pasangannya, karena takut dibilang gak gaul, takut dibilang jomblo, dan takut dibilang tidak laku.
Bagi mereka yang sudah menikah, mereka bisa dianggap mencintai karena Allah, jika mereka mampu menjalani rumah tangganya sesuai aturan syari’at Allah; melaksanakan kewajiban dan memenuhi suatu hak dalam rumah tangga, baik sebagai suami atau istri. Untuk mendapatkan rido Allah, kan harus melaksanaka sesuatu harus sesuai syari’at Allah.
Ada yang benar-benar mencintai karena Allah, yaitu dia yang menikah tanpa ada rasa cinta bahkan suka pun tidak ada, tetapi dia mampu menjalani rumah tangganya dengan tetap sesuai aturan syari’at Allah. Mungkin ini bagi mereka yang pernikahannya karena dijodohkan. Jadi, jika engkau benar-benar ingin meraih cinta karena Allah, menikahlah dengan orang yang tidak engkau cintai dan jalanilah kehidupan rumah tangga sesuai aturan syari’at Allah. Bisa gak, ya???

CIRI PECINTA SEJATI NABI MUHAMMAD SAW

0 komentar
CIRI PECINTA SEJATI NABI MUHAMMAD SAW

Pernyatan cinta yang tidak diikuti dengan bukti tentu saja masih belum cukup untuk menunjukkan cinta sejati. Bukti yang paling mudah dilihat, seseorang yang benar-benar cinta kekasihnya, ia akan mengutamakan kekasihnya dari dirinya sendiri. Jika belum mencapai tahap ini, hubungan tersebut belum layak dinamakan cinta sejati yang ikhlas-murni, tetapi baru sekadar pengakuan semata. Mentaati dan mengutamakan orang yang dikasihi ini jelas dapat dilihat dalam ungkapan seorang pencinta Allah SWT dan NabiNya SAW yang tidak asing lagi, Rabi’ah al Adawiyyah dalam syairnya: “Sesungguhnya seorang kekasih itu akan taat-patuh kepada yang dikasihinya.”

Selain memiliki tanda cinta di atas, orang-orang yang benar-benar mencintai Nabi SAW harus terdapat pada dirinya bukti dan tanda sebagai berikut:

1. Menjunjung agama Nabinya, mengamalkan Sunnahnya, menurut perkataan dan perbuatannya dalam setiap keadaan, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dia juga mengamalkan adab-adab kehidupan Rasulullah SAW dalam segala keadaan, baik ketika susah ataupun senang, ketika gembira ataupun sedih. Ikatan antara ‘kasih’ dan ‘taat’ ini terlihat jelas dalam firman Allah SWT: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, niscaya Allah akan mengasihi kamu.” (Ali ‘Imran: 31)

2. Sudah menjadi adat dan kebiasaan manusia, seorang akan sering menyebut dan mengingat kekasihnya. Apabila hati seseorang mencintai Rasulullah SAW, maka lidahnya akan sering menyebut nama Kekasihnya SAW dan fikirannya akan sentiasa mengingat Baginda SAW.

3. Orang yang mencintai Nabi SAW akan sentiasa rindu untuk bertemu dengan Baginda SAW; untuk melihat beliau di alam yang kekal abadi kelak, atau sekurang-kurangnya jika dapat menatap wajahnya yang mulia walaupun hanya sekejap mata dalam mimpi-mimpi mereka.

4. Seseorang yang mencintai Baginda SAW juga akan mengagungkan dan memuliakannya beliau ketika menyebut namanya. Malah ada yang menunjukkan rasa rendah dan hina diri ketika mendengar nama Baginda SAW disebut di hadapan mereka.

5. Orang yang mencintai Nabi SAW juga sepatutnya mencintai orang yang dicintai oleh Nabi SAW terutamanya nasab keturunannya dari kalangan ahli bait dan sahabat-sahabatnya. Mereka juga akan memusuhi orang yang memusuhi mereka dan membenci orang yang membenci mereka dan keturunan mereka.

6. Orang yang mencintai Nabi SAW akan membenci apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, menjauhi orang yang menyalahi sunnahnya, melakukan perkara bidah dalam agamanya dan memandang berat setiap perkara yang menyalahi syariatnya.

7. Orang yang benar-benar mencintai Nabi SAW pasti akan mencintai al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang dengannya manusia mendapat petunjuk. Mereka akan mengikut jejak Baginda SAW yang berakhlak al-Quran seperti yang ditegaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah r.ha dalam katanya, “Akhlak Baginda SAW adalah al- Quran itu sendiri”. Mengasihi al-Quran berarti membacanya, beramal dengannya, memahaminya, melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya.

8. Tanda cinta kepada Nabi SAW juga ialah merasa cinta dan berbelas kasih terhadap umatnya dengan memberi nasihat kepada mereka, berusaha melakukan kebaikan dan menghindarkan kemudaratan dari mereka.

Allohumma Sholli 'Ala Sayyidina Muhammad..

Selasa, 28 Mei 2013

KISAH KU DENGAN CALONKU

2 komentar
Ini kisahku , hmmm awalnya aku bingung kenapa bisa terjadi seperti ini !
berawal dari pertemanan yg biaasa , dan pertemanan ini menjadi sebuah sahabat yg sangat luar biasa .

perkenalkan aku muhammad !
dan ,ada 2 sahabatku ,mereka seorang akhwat yg pertama tari dan yg ke-2 namanya ifah .
tari adalah ade kelasku disebuah sekolah ternama dijakarta , dan , ifah adalah temannya satu pengajianya tari.

kita menjalani hari-hari yg luar biasa karna persahabatan ini datang dari allah .
hari demi hari kami lalui bersmaa suka dan duka kami jalani apa adanya .

sampai suatu ketika , ada yg aneh dalam perasaanku .!!
yaaa aku heran apa yg terjadi ,apakah ini sebuah perasaan yg biasa saja apa lebih dari itu .
tapi kenyataannya hatiku sedang terpaut kepada wanita yg tidak lain adalah sahabatku sendiri ,
ia adalah ifah yaa sahabatku yg ke-2 diriku mengaguminya sejak awal berjumpa .
ia orangnya mandiri dan tdk pernah tergesah-gesah dalammelakukan sesuatu .

hmmm awalnya diriku sudah berusaha untuk melupakannya ??
tapi ntanya , diriku malah bertambah kekagumanku kepadanya .

diriku coba menolaknya tapi tidak bisa , sampai diriku berpikir kalo jodoh kaga bakal kemana !

akhirnya diriku memutuskan untuk menyembunyikan perasaan ini !

tapi, lama kelamaan aku merasa cemburu melihat ia dekat dengan laki-laki lain .
sempatku berdo'a kepada allah :
" wahai allah jika suatu hari ia jodohku maka dekatku padanya ,tapi seandainya ia bukan jodohku, aku mohon ya allah dekatkan ku padanya ".

sampai diriku pernah bermimpi , aku melihatnya menikah dengan laki-laki lain , mungkin memang diriku bukan untuknya (bicara dalam hati) .
akhirnya diriku melupakannya aku gkmau menderita terus menerus seperti ini .

yaaaa , aku berhasil melupakannya !
tapi ,sekian lama diriku melupakannya , tiba-tiba perasaan itu tiba" muncul lagi .
diriku gkmengerti apamaksud dan tujuan allah menimbulkan kembali perasaan ini tapi yg ku yakin ada rahasia allah yg belumku ketahui , mungkin apakah allah menjodohkanku dengannya ??(bicara dalam hati)

hmmmm , lebih baikkunyatakan perasaanku kepadanya dari pada aku begini terus menerus .

percakapanku kepadanya disebuah cafe :
Muhammad : assalamualaikum ukht ?
ifah : alaikumussalam ka , kaka tumben mengajakku kesini tanpa  tari ?
muhammad : ada sesuatu yg ingin kk katakan dee ?
ifah : apa itu kaa ??
muhammad : hmmm ,klo kk boleh jujur , dari dulukk sudah memiliki rasa kagum kepadamu ?
yaaa sudah lama banget kupendam , tapi jika kau tidak punya perasaan yg sama kepada kk,kk tidak marah kok ,kk minta maaf yaa deee ??
ifah : hmmm maaf kak ,aku tidak bisa ?
muhammad : gpp , yuuk kita pulang ?
ifah : kak ?? kata"ku belum selesai ?
muhammad : yd terusss ?
ifah : maksud ifah , ifah gk mau kalo memiliki suami klo bukan kk ??
kk mau gak datang menemui kedua orang tuaku ,untuk melamarku ?
muhammad : hmmmm , kk seneng sekali kau ucapkan itu ,yaa besok kk akan membawa orang tuaku untuk melamarmu .

yaaaaa , itulah kisahku dengan calon istriku ?
do'akan yaa agar kami bisa bersatu ??

dan kekal sampai kesurga "aamiin"


GHAZUL FIKRI

0 komentar

BAHAYA PERANG PEMIKIRAN


Perang fisik memang bukan zamannya lagi, walau sebenarnya hal tersebut masih terjadi di beberapa negara di dunia, misal Israel dan Palestina. Perang fisik juga terlihat sangat nyata yang dapat memperoleh kecaman dari pihak lain. Saya yakin sangat banyak yang tidak sadar bahwa kita dalam masa berperang. Nyatanya perang ini lebih hebat dari perang fisik,-perang pemikiran (Ghazwul Fikri). Walau tidak menimbulkan kematian, namun dapat mengeruk sebuah idealisme ataupun pedoman. Katakan saja masalah adat istadat dan agama yang berubah sejak perang ini dimulai.
Pengertian Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)
Secara bahasa, ghazwul artinya serangan, serbuan atau invansi. Sedangkan Fikri adalahpemikiran. Jadi ghazwul fikri dapat diartikansebagai serangan untuk mengubah pemikiran sehingga tidak sesuai lagi denganpedoman awal yang dipegangnya.
Coba bandingkan kelebihan Perang Pemikiran dibandingkan perang fisik.
1. Biaya
Perang fisik memerlukan peralatan persenjataan, jika perlu dengan alat yang tercanggih. Tentunya biaya yang digunakan sangat mahal. Bandingkan dengan perang pemikiran yang hanya menggunakan media.
2. Jangkauan
Perang fisik hanya memerangi sebuah daerah saja, walaupun berperang adalah sebuah negara, namun pusat penyerangannya hanya di beberapa daerah saja. Bandingkan dengan perang pemikiran yang sampai pada setiap rumah di bumi ini selama ia masih tersentuh dengan media massa. Maka dapat dipastikan ia sedang diperangi.
3. Ruang Lingkup
Perang fisik hanya untuk meruntuhkan sebuah pertahanan saja, namun perang pemikiran akan terus mendobarak hingga sendi-sendi kehidupan. Pada bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain.
4. Waktu
Perang fisik pastinya akan berakhir pada suatu waktu. Namun perang pemikiran akanterus berlangsung selama kita hidup.
5. Dampak
Dampak dari perang fisik adalah perlawanan, ada yang kalah ada yang menang. Sedangkan Perang pemikiran akan mengubah pemikiran seseorang sehingga mengikuti pemikiran si pengatur. Pada awalnya ia menganggap hal tersebut buruk, kemudian bisa menjadi baik.
Sarana apa yang digunakan dalam perang pemikiran?
Media. Jawaban mutlak media. Kemudahan informasi ternyata memberikan efek buruk seperti ini. Apalagi masyarakat telah menaruh kepercayaan penuh terhadap media tanpa menyaring informasi terlebih dahulu. Anda akan selamanya berhadapan dengan media. Televisi yang ada di dalam rumah Anda. Internet yang setiap hari Anda akses. Koran yang Anda baca pada pagi hari.Dan seterusnya.
Tahukah Anda bahwa media dapat membentuk mind set kita? Media menjadikan kita seperti apa yang ia inginkan. Sebuah kutipan buku 'Catatakan Kang Jalal', 18 September 1997 dari seorang pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat.
“Dalam media massa dunia berganti nama, aurat berubah menjadi kesenian, maksiat menjadi klangenan, hiburan menjadi kebijakan, fitnah menjadi penerangan, manusia menjadi berhala, dan derita menjadi berita,”
Mengerikan bukan? Lalu apa saja contoh yang ada disekitar kita? Saya akan memberikan 2 contoh.
#Contoh 1
Adat istiadat orang zaman dahulu sopan serta santun. Orangtua kita pasti mengetahui hal tersebut dan Anda pasti akan setuju. Sangat jauh berbeda dengan zaman sekarang.
Kita kembali ke masa lalu, bagaimana penilaian masyarakat terhadap wanita yang keluar malam? Tentunya akan dicap sebagai wanita yang tidak baik, apalagi jika ia keluar bersama laki, tentunya cap yang melekat pada dirinya semakin parah. Keadaan sepertiini sungguh sangat baik. Mereka mengerti sampai mana batasan-batasan yang harus dilakukan dengan tidak melanggar norma-norma yang berlaku.
Bagaimana dengan sekarang? Anda dapat melihat sendiri bagaimana wanita keluar malam dengan mudahnya. Apalagi para remaja putri yang kerap keluar bersama pacarnya. Sudah menjadi biasa dan tidak ada khwatir pada diri orangtua. Padahal kegiatan seperti ini sangat berpeluang terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Anggapan zaman dahulu telah sirna.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Ya, media. Bukankah televisi mempertontonkan adeganberpacaran? Bukankah budaya impor tesebut telah tersampaikan lewat media tulis? Cerita-cerita muda-mudi yang menjalin kasih? Cek saja buku-buku terdahulu. Hal-hal seperti ini meracuni pemikiran measyarakat.
Parahnya lagi ketika kita saksikan di layar kaca film bertemakan cinta saat ini kebanyakan diperankan oleh para pelajar. Bukankah harusnya mereka menyodorkan nilai-nilai pendidikan yang lebih, bukannya hanya mementingkan komersial saja denganmemfokuskan pada adegan percintaan. Film yang tidak baik. Maka sudah dapat dipastikan bagaimana budaya seks bebas itumuncul. Memberikan peluang kepada mereka untuk berduaan ketika pacaran.

Rabu, 14 Desember 2011

solusi hukum wanita Islam

0 komentar
Dalam pandangan Islam wanita tidak seperti laki-laki bahkan bila kita teliti dengan seksama, banyak memiliki perbedaan, sehingga dalam hal-hal tertentu Islam memberi solusi hukum secara berbeda. Maka sangat wajar bila para ulama membuat tulisan secara khusus tentang wanita dan problematika kewanitaan yang terkadang sulit untuk mendapatkan jawaban secara tuntas, lugas dan jelas. Sangat langka untuk mendapatkan buku yang memuat fatwa-fatwa para ulama kontemporer yang bermanhaj salaf seperti Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh, Syaikh Abdurrahman as-Sa'di, Syaikh Abdul Aziz Abdurrahman al-jibrin dan Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, yang menjelaskan berbagai permasalahan fikih kewanitaan dari mulai thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, pernikahan, talak, hukum-hukum muamalah dan hukum-hukum jinayat serta hukum lain yang secara khusus bersinggungan dengan dunia wanita. Dan lebih nadir lagi fatwa-fatwa tersebut digali dari berbagai macam buku, majalah, kaset dan ceramah lalu dibukukan setelah melalui proses penyaringan secara teliti dan akurat sehingga pembaca tinggal mendapatkan sari dari fatwa-fatwa para ulama. Dan buku ini semakin menarik ketika pembahasan dan penggunaan bahasa fikih disesuaikan dengan kondisi zaman sekarang. Para pembaca akan mendapatkan solusi tuntas dan berbobot dalam masalah hukum-hukum fikih sehingga mampu menjalankan agama secara benar berdasarkan ilmu dan petunjuk yang benar. Seorang muslim setelah mampu berbuat ikhlas dalam beribadah, maka dituntut untuk benar dalam beribadah, sebab beribadah atau beramal tanpa dasar ilmu dan petunjuk yang benar dan keikhlasan, pasti akan merugi dan hanya melakukan perbuatan sia-sia. Buku ini sangat relevan dan tidak diragukan kandungan dan materi pembahasannya untuk dunia wanita saat sekarang apalagi sosok para ulama yang menjadi nara sumber fatwa sudah tidak asing dan sangat masyhur di kalangan umat Islam internasional dari segi keilmuan dan kemampuan mereka dalam menjawab permasalahan hukum-hukum Islam terlebih dalam masalah kewanitaan.

Rabu, 16 November 2011

Metode Qur’ani Dalam Tafsir Al Qur’an!

0 komentar

Metode Qur’ani Dalam Tafsir Al Qur’an!

Al Qur’an adalah kitab suci terakhir yang Allah turunkan untuk umat manusia. Ia diturunkan dengan bahasa dan dikemas dengan susunan yang indah. Sejak awal penurunanya Al Qur’an telah mendapat sambutan hangat dari kaum Muslim dan mengundang perhatian dan keingin-tahuan tentangnya dan tentang makna yang terkandung di dalamnya.
Allah SWT telah berjanji akan memberikan penjelasan atas firman yang Ia turunkan. Dan Dia juga mempercayakan Nabi-Nya untuk menjadi penafsir utama Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ * ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَهُ.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.* Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya. (QS. Al Qiyamah;18-19)
.

وَ أَنْزَلْنا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ ما نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ.

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl;44 )
.
Karenanya tafsir Nabi saw. adalah tafsir yang tidak boleh diabaikan dan harus diutamakan! Ia adalah rujukan utama dan pertama dalam memahami tafsir ayat-ayat Al Qur’an disamping berujuk kepada Al Qur’an sendiri. Sebab ayat-ayat Al Qur’an itu saling mnjelaskan dan saling membenarkan! Nabi saw. bersabda:
.

إنما نزل يُصَدِّقُ بعَضُه بعَضًا

“Sesungguhnya Al Qur’an itu turun untuk saling membenarkan.”[1]
.
Allah SWT Memerintah Umat Manusia Agar Merenungkan Ayat-ayat Al Qur’an!
Tadabbur terhadap ayat-ayat Al Qur’an dengan mengindahkan syarat-syarat yang diperlukan adalah metode tafsir ideal. Allah SWT berfirman:
.

أَ فَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَ لَوْ كانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فيهِ اخْتِلافاً كَثيراً.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An Nisâ’;82)
.
Tentang ayat di atas, Ibnu katsir berkata, “Allah berfirman memerintah mereka untuk tadabbur, merenungkan Al Qur’an dan melarang dari berpaling darinya dan dari mencari faham tentang makna-maknanya yang kokoh dan teks-teksnya yang balighah. Allah mengabarkan bahwa tiada di dalamnya perselisihan dan kekacauan, tiada juga terdapat pertentangan, sebab ia turun dari Dzat Yang Maha Bijak dan Maha Terpuji. Ia adalah haq dari Dzat Yang Maha Haq… .”[2]
Perintah itu berlaku untuk semua dan di segala waktu. Ia tidak terbatas untuk generasi tertentu. Sebagaimana perintah itu butki kuat bahwa ayat-ayat Al Qur’an dapat direnungkan dan dapat dimengerti dan difahami maknanya. Sebab andai tidak, maka sis-sialah perintah untuk bertadabbur itu!
Dan pemahaman itu bukanlah monopoli generasi tertentu! Dan tafsir produk para pendahulu tidak aula bit tibâ’/lebih berhak diikuti disbanding tafsir generasi lanjutan… bahkan bisa jadi tafsir generasi penerus lebih matang dan lebih mirip dengan kebenaran dan apa yang menjadi maksud Sang Pemfirmannya. Sebab yang menjadi i’tibâr/pengandalan adalah kesesuaiannya atau paling tidak kedekatanya dengan kebenaran dan bukan keklasikan pengucapnya!
.
Nilai tafsir Salaf!
Karenanya, tidak ada keharusan memasung kecerdasan pemahaman seorang mufassir dengan pasung tafsir Salaf terdahulu. Sebab selain tidak ada dalil yang mengharuskan kita memasung diri dengan tafsir Salaf, ia akan mematikan keagungan Al Qur’an sebelum ia mematikan kreatifitas para mufassir! Karena Al Qur’an untuk semua generasi dan dia akan selalu tampil baru dan segar!
Burhânuddîn az Zarkasyi dalam al Burhan-nya menukil keterangan tentang keharusan berujuk kepada tafsir Tabi’în, di antaranya ia berkata, “Dan dalam berujuk kepada tafsir seorang tabi’i telah diriwayatkan dua riwayat (penukilan pendapat) dari Ahmad. Ibnu ‘Aqîl memilih menolak. Dan mereka menukilnya juga dari Syu’bah. … [3]
Tentunya, jangan disalah-fahami bahwa kita tidak perlu menghiraukan tafsir Salaf. Akan tetapi, kita tidak boleh terpasung oleh tafsir Salaf dan atau menjadikannya sebagai hujjah yang wajib diikuti! Ibnu Taimiyah berkata, “Syu’bah bin Hajjâj dan selainnya berkata, “Ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) para Tâbi’în bukanlah hujjah, lalu bagaimana ia dapat dijadikan hujjah dalam tafsir?! Ustadz Adz Dzahabi berkata, “Dan kami condong berpendapat bahwa mengambil ucapan para Tâbi’în dalam tafsir tidaklah wajib, kecuali jika pada masalah-masalahyang tiada ruang bagi pendapat, ia dapat diambil ketika tidak ada keraguan padanya.”[4]
Dasar Keberagamaan Yang Salah!
Sebagian orang memasung diri dengan hanya membatasi pamahamannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an hanya pada pemahaman Salaf… . Slogan mereka mengatakan, “Berujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salaf!” Ini adalah metode yang salah dalam mendasarkan keberagamaan.
Dalam memahami ayat-ayat tentang Tauhid, baik tauhid sifat maupun maalah-masalah terkait lainnya, misalnya mereka pasti akan dihadapkan dengan tumpukan ucapan Salaf yang saling kontradiksi satu dengan lainnya. Bahkan tidak jarang pula terdapat perbedaan penukila dari seorang dari Salaf! Dalam kondisi seperti ini, bagi yang memasung diri hanya dengan pemahaman Salaf pasti akan kesulitan… Dan pada akhirnya mereka mungkin terpaksa melakukan uji kualitas, mana di antara ucapan Salaf itu yang benar untuk diambil dan itu artinya, ucapan Salaf yang lainnya akan dicampakkan dan dibuang ke tong sampah yang menampung limbah-limbah aqwâl Salaf! Itu artinya pula bahwa konsep yang mengatakan harus berujuk kepada Salaf adalah sesuatu yang sulit atau bisa jadi mustahil dipraktikkan! Sebagaimana kenyataan itu membuktikan bahwa para Salaf pun bertingkat-tingkat kualitas intelektualnya.
.
Kaum Pembid’ah Sulit Obyektif Dalam Mengikuti Salaf Shaleh!
Orang yang hanya mencari pembenaran atas nama Salaf akan sangat mudah melupakan Salaf kebanggaannya apabila ternyata ia menyelisihi akidah yang telah diadopsinya.
Seorang yang selama ini membanggakan seorang mufassir Salaf bernama Mujahid misalnya, dia tidak akan segan-segan melupakan dan mencampakkan sang Salaf andalannya itu ketika ternyata ia terbukti menafsirkan ayat 23 surah al Qiyamah dengan tafsiran yang merugikan doktrin lamanya.
Tentang tafsir ayat tersebut, telah diriwayatkan dari Mujahid dengan sanad bersambung melalui beberapa jalur bahwa ia menafsirkannya dengan menanti pahala Tuhan, bukan melihat Tuhan, seperti yang selama ini difahami ulama:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ ناضِرَةٌ * إِلى‏ رَبِّها ناظِرَةٌ.

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Terhadap (pahala) Tuhannyalah mereka menanti.
Ath Thabari berkata:

وقال آخرون: بل معنى ذلك: أنها تنتظر الثواب من ربها.

“Dan sebagian berpendapat: Akan makna ayat itu adalah, ‘Mereka menanti pahala dari Tuhan mereka.’”
Kemudian ath Thabari merangkum tafsir Mujahid tersebut melalui jalur:

حدثنا أبو كُرَيب، قال: ثنا عمر بن عبيد، عن منصور، عن مجاهد ( وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر منه الثواب.

قال: ثنا وكيع، عن سفيان، عن منصور، عن مجاهد ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر الثواب من ربها.

حدثنا ابن بشار، قال: ثنا عبد الرحمن، قال: ثنا سفيان، عن منصور، عن مجاهد ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر الثواب.

حدثنا ابن حميد، قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن منصور عن مجاهد ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر الثواب من ربها، لا يراه من خلقه شيء.

حدثني يحيى بن إبراهيم المسعودي، قال: ثنا أبي، عن أبيه، عن جدّه، عن الأعمش، عن مجاهد ( وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ) قال: نضرة من النعيم ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر رزقه وفضله.

حدثنا ابن حميد، قال: ثنا جرير، عن منصور، عن مجاهد، قال: كان أناس يقولون في حديث: « فيرون ربهم » فقلت لمجاهد: إن ناسا يقولون إنه يرى، قال: يَرى ولا يراه شيء.

قال ثنا جرير، عن منصور، عن مجاهد، في قوله: ( إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر من ربها ما أمر لها.

حدثني أبو الخطاب الحساني، قال: ثنا مالك، عن سفيان، قال: ثنا إسماعيل بن أبي خالد، عن أبي صالح، في قوله: ( وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ) قال: تنتظر الثواب.

1)      Dari Abu Kuraib, ia berkata, Umar ibn Ubaid menyampaikan kepada kami, dari Manshur dari Mujahid, “Menanti pahala dari-Nya.”
2)      Ia berkata, Wakî’ menyampaikan kepada kami dari Sufyan dari Manshûr dari Mujahid, “Menanti pahala dari Tuhannya.”
3)      Ibnu Basysyâr menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdurrahman menyampaikan kepada kami, ia berkata, Sufyan menyampaikan kepada kami dari Manshûr dari Mujahid, “Menanti pahala.”
4)      Ibnu Humaid menyampaikan kepada kami, ia berkata, Mahrân menyampaikan kepada kami dari Sufyan dari Manshûr dari Mujahid., ia berkata, ‘Mereka menanti pahala dari Tuhan mereka. Tiada akan melihat-Nya sesuatu apapun dari ciptaan-Nya.!’
5)      Yahya bin Ibrahim al Mas’ûdi menyampaikan kepada kami, ia berkata, ayahku menyampaikan kepada kami dari ayahnya dari kakeknya dari A’masy dari Mujahid, “Menanti rizki dan anugerah-Nya.”
6) Ibnu Hamîd menyampaikan kepada kami, ia berkata Jarîr menyampaikan kepada kami dari Manshur dari Mujahid, ia berkata, “Ada banyak orang berkata tentang hadis, ‘Mereka akan melihat Tuhan mereka.’ Maka aku berkata kepada Mujahid berkata, ‘Orang-orang berkata Dia akan dilihat!’ Mujahid berkata,Dia Maha Melihat dan tidak dapat dilihat oleh sesuatu apapun.
7)      Jarîr menyampaikan kepada kami dari Manshur dari Mujahid ia berkata, “Mereka menanti dari Tuhan mereka apa yang  Dia perintahkan.”[5]
Bagi mereka yang selama ini mengkultus Salaf dan memasung diri hanya dengan menelan mentah-mentah apa yang dikatakan Salaf tentang ayat tertentu pasti berusaha keluar dari jeratan problem seperti ini… . Tetapi bagi yang punya keterbukaan dan tidak memandang tafsir Salaf sebagai hujjah, pasti ia akan kembali kepada metode tadabbur/perenungan ayat dan tidak akan menerima atau menolak tafsir Salaf kecuali atas dasar bukti… bukan atas dasar ucapan Salaf itu sendiri!

Tidak Semua Ayat Al Qur’an Telah Ditafsirkan Oleh Salaf
Masalah lain yang akan menghadang mereka yang mengebiri kreatifitasnya dalam memahami tafsir Al Qur’an adalah bahwa ternyata tidak semua ayat Al Qur’an tu telah ditafsirkan oleh generasi Salaf baik sahabat mapun tabi’în. Bahkan seperti yang kita ketahui bahwa Nabi saw. pun tidak menafsirkan seluruh ayat Al Qur’an. Atau paling tidak berdasarkan riwayat yang ada di tangan para ulama, ternyata banyak ayat yang terlewatkan tidak ada riwayat tafsir Nabi saw.!
Sumber Pengambilan Salaf Dalam Tafsir
Bagi Anda yang mengetahui sumber pengambilan Salaf dalam memahami dan menafsirkan Al Qur’an pasti ia tidak akan terjebak dalam kungkungan tafsir Salaf! Ustadz adz Dzahabi dalam kitabnya at Tafsîr wal al Mufassirûn menyebut empat sumber tafsir Salaf generasi awal; para sahabat:
(1)   Al Qur’an itu sendiri.
(2)   Nabi saw.
(3)   Ijtihad dan istimbâth/penyimpulan. Ketika mereka tidak menemukan keterangan tentang sebuah ayat dari Al Qur’an atau kesulitan mendapatkan keterangan dari Sunnah Nabi saw., mereka kembali kepada ijtihad dan menggunakan pikiran untuk menyimpulkan pendapat.
(4)   Pendapat Ahlul Kitab; Yahudi dan Nashrani.[6]
(5)   Dan di sini dapat ditambahkan sumber kelima yaitu Bahasa Arab melalui syair-syair orang-orang Arab, seperti yang banyak dilakukan oleh Ibnu Abbas ra. Sebab syair-syair bangsa Arab adalah bagaikan kamus yang merangkum kata-kata yang asing didengar oleh kebanyakan orang sekali pun. Sayyidina Umar ra. berkata, “Hendaknya kalian memperhatikan diwân kalian  agar kalian tidak tersesat!” Mereka berkata, ‘Apa yang Anda maksud dengan diwân kami? Ia menjawab, “Syair-syair bangsa Arab masa jahiliyah. Di dalamnya terdapat tafsir Kitab suci kalian dan makna pembicaraan kalian.[7]
Adapun Salaf generasi tabi’în maka pengambilan mereka dalam tafsir dapat kita rangkum sebagai di bawah ini:
(1)   Berujuk kepada Al Qur’an.
(2)   Mengindahkan tafsir Nabi saw dan keterangan para Sahabat yang sampai kepada mereka.
(3)   Memperhatikan asbâb nuzûl dan kasus-kasus yang karenanya ayat itu diturunkan.
(4)   Berujuk kepada bahasa Arab, khususnya yang diabadikan dalam syair-syair mereka. Ibnu Abbas ra. menganjurkan para muridnya untuk memperhatikan dan merujuk syair-syair Arab untuk mengenali arti kata dalam ayat Al Qur’an.[8]
(5)   Mengandalkan ra’yu dan ijtihad melalui perenungan dan penyimpulan. Dalam arti mereka menafsirkan tanpa berujuk kepada tafsir Nabi saw. atau seorang dari sahabat pun. Dengan bertadabbur dan memerhatikan segala yang meliputi ayat yang hendak ia tafsirkan.
(6)   Merujuk peninggalan Ahlul Kitab; Yahudi dan Nashrani (Perjanjian lama dan Perjanjian Baru).
Setelah ini pasti Anda maklum bahwa tidaklah benar anggapan bahwa seorang mufassir harus memasung pemahamanannya dan membatasi diri dengan menjadikan tafsir Salaf sebagai hujjah yang tidak boleh keluar darinya! Sehingga apapun yang dipahami oleh seorang mufassir betapapun hebat dan luasnya ilmu yang ia miliki sebagai tafsir Khalafi yang konotasinya adalah bid’ah… mengada-ngada… tidak memiliki Salaf… dan akhirnya dicap tafsir liar! Sebab apapun yang tidak diambil dari Salaf pasti ia dihukumi liar!!
Ar Râghib al Ishfahâni berkata menjelaskan ruang lingkup seorang mufassir, “Manusia telah berbeda pendapat tentang tafsir al Qur’an, apakah ia boleh bagi setiap orang untuk menjeburkan diri di dalamnya? Sebagian orang berkeras sikap dan berkata, ‘Tidak boleh bagi seorang menafsirkan al Qur’an walaupun ia seorang yang alim/pandai, sastrawan Arab, luas pengetahuannya tentang dalil-dalil fikih, nahwu (tata bahasa Arab), akhbâr/berita dan atsâr/data-data yang dinukil. Yang boleh baginya hanyalah menyampaikan apa yang telah sampai kepadanya dari riwayat Nabi saw. dan dari orang-orang yang menyaksikan turunnya al Qur’an yaitu para sahabat dan orang-orang yang menimba ilmu dari para sahabat yaitu tabi’în…. Dan yang lainnnya mengatakan, ‘barang siapa yang mendalami satra Arab maka boleh baginya menafsirkan Al Qur’an. Orang-orang berakal dan para sastrawan…
Kedua pendapat di atas adalah ghuluw (berkeras-keras) dan tafrîth (teledor). Barang siapa membatasi diri dengan apa yang dinukil maka ia benar-benar meninggalkan banyak hal yang ia butuhkan. Dan barang siapa membolehkan siapa saja menafsirkan Al Qur’an maka ia telah menjadikannya sasaran kekacauan dan tidak mengindahkan firman-Nya:
.

كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ مُبارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آياتِهِ وَ لِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبابِ.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat- ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang- orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad;29).[9] Setelahnya ia menjelaskan sepuluh syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mufassir.
Bukti Nyata!
Bukti nyata adalah bahwa para ulama islam di sepanjang zaman melibatkan diri dalam tafsir Al Qur’an dan tidak membatasi diri hanya terpaku dengan tafsir yang dima’tsurkan dari Salaf dengan segala hormat kita semua kepada Salaf!
Karenanya, ucapan seorang yang mengaku Salafi, “Tunjukkan siapa Salaf kamu dalam pemahaman ayat ini atau itu?!” “Tafsir kamu adalah tafsir Khalafi.. tafsir bid’ah dll. adalah ucapan seorang santri abangan yang terkesan awam tapi sok Salafi… terkenal dangkal tapi sok peneliti… dan akhirnya mengundang keprihatinan mendalam bagi para ulama muhaqqiqûn!
Semoga Allah SWT senantiasa berkenan membimibng kita semua ke jalan-Nya. Amîn.

[1] Tafsir Ibn Katsir,1/529.
[2] Ibid.
[3] Al Burhan Fî ‘Ulûmil Qur’ân,2/158.
[4] At Tafsîr wal al Mufassirûn,1/128-129 rujuk juga Muqaddimah Ushul at Tafsîr; Ibnu Taimiyah:28-29, Fawâtih ar Rahamût,2/188 dan al Itqân,2/179..
[5] Tafsir ath Thabari,29/192-193. Setelah menyebutkan perbedaan ahli ta’wil tentang ayat di atas dan setelah merangkum tafsir Mujahid, Ibnu Jarîr ath Thabari menimbang dan kemudian memutuskan menolak tafsir Mujahid!
[6]Keterangan lengkap dipersilahkan merujuk ke at Tafsîr wal al Mufassirûn,1/36-62.
[7] at Tafsîr wal al Mufassirûn,1/74.
[8] Ibid.
[9] Mukaddimah Fi at Tafsîr:93.

http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/17/metode-qur%E2%80%99ani-dalam-tafsir-al-qur%E2%80%99an/

Benarkan Kaum Musyrik Arab Beriman Kepada Tauhid Rububiyyah Allah? – Bantahan Untuk Ustad Firanda

0 komentar

Benarkan Kaum Musyrik Arab Beriman Kepada Tauhid Rububiyyah Allah? – Bantahan Untuk Ustad Firanda

Bukti-bukti Lain Bahwa Kaum Musyrik Arab Juga Menyekutukan Allah Dalam Tauhid Rububiyyah Allah
Kaum Musyrik Menyamakan Sesembahan Mereka Dengan Allah dalam Rubûbiyyah
Di antara ayat-ayat yang menjelaskan keyakinan kaum Musyrik Arab terhadap âlihah yang mereka sembah di dunia adalah ayat-ayat yang menjelaskan bahwa mereka itu menyamakan tuhan-tuhan mereka dengan Allah SWT dalam kekuasaan dalam memberikan pengaruh, baik kebaikan maupun keburukan. Keyakinan syirik itu kelak yang akan mereka sesali di saat mereka bersama sesembahan-sesembahan mereka ditelungkupkan ke dalam api neraka. Di saat itu mereka menyadari kesesatan yang mereka yakini selama dalam kehidupan dunia. Allah SWT mengisahkan penyesalan mereka atas akidah syirik yang menyamakan sesembahan-sesembahan mereka dengan Allah SWT dalam  surah asy Syua’râ’ ayat 91-98:

وَ بُرِّزَتِ الْجَحيمُ لِلْغاوينَ * وَ قيلَ لَهُمْ أَيْنَ ما كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ * مِنْ دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنْصُرُونَكُمْ أَوْ يَنْتَصِرُونَ * فَكُبْكِبُوا فيها هُمْ وَ الْغاوُونَ * وَ جُنُودُ إِبْليسَ أَجْمَعُونَ * قالُوا وَ هُمْ فيها يَخْتَصِمُونَ * تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفي‏ ضَلالٍ مُبينٍ * إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعالَمينَ .

“dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat”,* dan dikatakan kepada mereka:” Di manakah sesembahan-sesembahan yang dahulu kamu selalu menyembah (nya).* selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri”* Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, * dan bala tentara iblis semuanya.* Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka *  demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata,* karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (QS. Asy Syua’râ’91-98)
.
Keterangan Para Ahli Tafsir
Dari ayat-ayat di atas terlihat jelas sekali bagaimana sebenarnya keyakinan kaum Musyrik Arab terhadap sesembahan-sesembahan yang mereka sembah di dunia.  Mereka menyamakannya dengan Allah SWT. demikian para mufassir seperti Imam ath Thabari, al Baghawi, asy Syaukani dll. menafsirkan.
Coba perhatikan keterangan mereka tentang ayat-ayat di atas!

وَ قيلَ لَهُمْ أَيْنَ ما كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ * مِنْ دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنْصُرُونَكُمْ أَوْ يَنْتَصِرُونَ *

dan dikatakan kepada mereka:” Di manakah sesembahan-sesembahan yang dahulu kamu selalu menyembah (nya).* selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri”*
Imam Ibnu Jarîr ath Thabari menafsirkan demikian:

وقيل لِلْغَاوِينَ ( أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ) من الأنداد ( هَلْ يَنْصُرُونَكُمْ ) اليوم من الله, فينقذونكم من عذابه ( أَوْ يَنْتَصِرُونَ ) لأنفسهم, فينجونها مما يُرَاد بها؟.

dan dikatakan kepada mereka (orang-orang yang sesat itu): “Di manakah sesembahan-sesembahan yang dahulu kamu selalu menyembah (nya).* selain Allah? (yaitu sekutu-sekutu/andâd)[1] Dapatkah mereka menolong kamu (pada hari ini dari Allah, lalu ia menyelamatkan kamu dari siksa-Nya) atau menolong diri mereka sendiri” (lalu mereka menyemalatkan diri mereka dari apa yang dimaukan darinya?)

فَكُبْكِبُوا فيها هُمْ وَ الْغاوُونَ

Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat.”
Tentang ayat di atas, Imam ath Thabari menukil dari Ibnu Zaid melalui Yunus dari Ibnu Wahb, ia berkata, Ibnu Zaid berkata tentang firman di atas:

حدثني يونس, قال: أخبرنا ابن وهب, قال: قال ابن زيد, فى قوله: ( فَكُبْكِبُوا فِيهَا ) قال: طرحوا فيها. فتأويل الكلام: فكبكب هؤلاء الأنداد التي كانت تعبد من دون الله في الجحيم والغاوون.

“Mereka dilemparkan ke dalam nereka Jahîm. Ta’wil firman itu adalah: Mereka; sekutu-sekutu/andâd yang dahulu disembah selain Allah dilemparkan ke dalam neraka jahîm bersama orang-orang yang sesat.”
.

قالُوا وَ هُمْ فيها يَخْتَصِمُونَ * تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفي‏ ضَلالٍ مُبينٍ * إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعالَمينَ .

“Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka *  demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata,* karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.”
Imam ath Thabari berkata menafsirkan:

يقول تعالى ذكره: قال هؤلاء الغاوون والأنداد التي كانوا يعبدونها من دون الله وجنود إبليس, وهم في الجحيم يختصمون. ( تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ ) يقول: تالله لقد كنا في ذهاب عن الحقّ, إن كنا لفي ضلال مبين, يبين ذهابنا ذلك عنه عن نفسه, لمن تأمله وتدبره, أنه ضلال وباطل. وقوله: ( إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ) يقول الغاوون للذين يعبدونهم من دون الله: تالله إن كنا لفي ذهاب عن الحقّ حين نعدلكم برب العالمين فنعبدكم من دونه.

وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل.

“Mereka; orang-orang yang sesat itu dan andâd yang dahulu mereka sembah selain Allah dan juga bala tentara Iblis berkata sedang bertengkar di dalam neraka jahîm, ‘demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata’ ia berfirman, ‘Demi Allah kami benar-benar menjauh dari kebenaran, dan kami berada dalam kesesatan yang nyata…. karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam. Orang-orang yang sesat itu berkata kepada sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, ‘Demi Allah kami benar-benar dalam penyimpangan dari kebenaran ketika kami menyamakan kalian dengan Rabbul ‘Âlamîn lalu kami sembah kalian di samping Allah.”
Dan seperti yang kami katakan ini berpendapat ahli tafsir. …

حدثني يونس, قال: أخبرنا ابن وهب, قال: قال ابن زيد, في قوله: ( إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ) قال: لتلك الآلهة.

Yunus menyampaikan kepadaku, ia berkata, Ibnu Wahb menyampaikan kepada kami, ia berkata, Ibnu Zaid berkata, tentang ayat: “karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam. Mereka berkata kepada âlihah/tuhan-tuhan itu.”[2]
Asy Syaukani berkata menafsirkan:

فَكُبْكِبُوا فيها هُمْ وَ الْغاوُونَ

Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat.”
“Mereka dilempar ke dalam nereka Jahîm. Kata ganti orang ketiga: hum/mereka adalah sesemhaban dan al Ghâwûn/orang-orang yang sesat adalah para penyembah mereka.
… Dan ada yang berkata, ‘hum/mereka’ adalah  kaum kafir Quraisy dan al Ghâwûn adalah âlihah/tuhan-tuhan sesembahan mereka.”[3]
.
Abu Salafy berkata:
Pengakuan kaum Musyrik dalam persengketaan antara mereka dengan sesembahan-sesembahan mereka di dalam neraka Jahîm yang direkam Allah dalam ayat tersebut yang menyamakan mereka dengan Allah SWT adalah bukti kuat bahwa kamu Musyrik Arab itu menyamakan Allah dalam kekuasaan yang mereka miliki secara mandiri/independen. Sebagaimana Allah mengatur alam semesta, demikian juga mereka meyakini bahwa sesembahan mereka memiliki kekuasaan itu secara independen pula. Sebab jika tidak, maka itu artinya mereka tidak menyamakannya dengan Allah SWT. padahal kaum Musyrik itu mengakui bahwa mereka menyamakannya dengan Allah SWT.!
Kenyataan itu akan makin jelas dengan memerhatikan ayat di bawah ini.
Ayat Lain!
Allah SWT berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي خَلَقَ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ وَ جَعَلَ الظُّلُماتِ وَ النُّورَ ثُمَّ الَّذينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun kemudian orang-orang yang kafir menyamakan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (QS. Al An’âm;1)
.
Kata: يَعْدِلُونَ menjadikan sesuatu lain adîlan bagi Allah. Kata adîlan seperti diterangkan para ahli bahasa dan juga ditegaskan para mufassir adalah sesuatu yang disamakan dengan sesuatu lain. Asal kata al ‘adl adalah penyamaan seatau dengan sesuatu lain. Jadi makna ayat tersebut: “Kemudian, setelah penjelasan bahwa Allah lah Dzat yang menciptakan langit dan bumi, menjadikan gelap dan cahaya, orang-orang yang kafir itu menyamakan sesuatu lain dengan Allah. Yaitu mereka menyamakan sesembahan-sesembahan mereka itu dengan Allah Dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam!
Jadi, walaupun boleh jadi mereka mengakui Allah pencipta alam, namun mereka (kaum Musyrik Arab) menyamakan selain Allah dengan Allah dalam pengaturan alam/Rubûbiyyah. Dan inilah yang dinamakan memusyrikkan Allah dengan selain-Nya!
Ibnu Jarîr, Ibnu Abi Hâtim dan para mufassir lain menukil Ibnu Zaid sebagai menafsirkan:
‘namun kemudian orang-orang yang kafir menyamakan (sesuatu) dengan Tuhan mereka’ yaitu âlihah yang mereka sembah. Mereka menyamakannya dengan Allah- Ta’ala-. Padahal Alllah tidak mempunyai tandingan, padanan, dan tiada bersama-Nya âlihah, dan Dia tidak menjadikan istri dan anak.”[4]

Kata Andâd Memperjelas Bukti Kemusyrikan Bangsa Arab Terhadap Rubûbiyyah Allah
Makna kata adîlan dan idlan yang darinya kata kerja يَعْدِلُونَ diambil akan lebih jelas apabila kita libatkan ayat-ayat yang menyebutkan bahwa kaum Musyrik Arab itu menjadikan sesembahan-sesembahan mereka itu sebagai andâd! Seperti dalam banyak ayat di antaranya:

فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ.

Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui (bahwa tidak satupun dari para sekutu itu yang menciptakanmu dan memberikan rezeki kepadamu).” (QS. al Baqarah;22)

وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَاداً

Dan ada sebagian manusia yang memilih sekutu-sekutu selain Allah… “ (QS. al Baqarah;165)

وَ جَعَلُوا لِلَّهِ أَنْداداً لِيُضِلُّوا عَنْ سَبيلِهِ قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصيرَكُمْ إِلَى النَّارِ.

Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:” Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.”(QS. Ibrahim;30)
Kata niddun (bentuk tunggal kata andâd) adalah sebuah kata yang penting dan berulang kali disebutkan dalam Al Qur’an ketika mengecam kemusyrikan kaum Musyrik Arab. Kata itu dipakai untuk menunjuk makna serupa dengan kata syarîk/sekutu bagi Allah seperti klaim mereka!
Di antara makna kata niddun adalah:
1)      Apa-apa yang menyerupai dan melawan sesuatu lain dalam urusannya. Kata nadîdun dan niddun artinya sama. Bentuk jamaknya andâd. Demikian diterangkan oleh al Farâhidi dalam kitab al ‘Ain,8/10.
2)      Niddun adalah sama dengan mitslun. Dan kata itu dipakai untuk menunjukkan serupa yang melawan, diambil dari kata: nâdadtuhu, artinya: khâlaftuhu/aku menentangnya. Demikian diterangkan oleh Abu Hilâl al ‘Askari dalam kitab Fuûq Lughawiyah-nya:535 kata dengan nomer 2154.
3)      Nuddun adalah matsîl dan nadzîr (yang serupa). Demikian diterangkan dalam kamus Tâjul ‘Arûs,2/405.
Dari keterangan ahli bahasa di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang difahami dari kata niddun adalah makna yang serupa dan terkadang diartikan yang menentang.
Dalam arti pertama (yang disepakati antara para ahli bahasa Arab) kata itu akan menjadi jelas bahwa kaum Musyrik Arab itu menjadikan sesembahan-sesembahan mereka sebagai yang serupa dengan Allah SWT.
Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menulis sebuah bab dengan judul: Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah.
Ibnu Hajar dalam syarah Shahih Bukhari menukil keterangan Ibnu Baththâl dan al Kirmani sebagai mengatakan: “Maksud (Imam) Bukhari dalam bab ini adalah menetapkan penisbatan seluruh amal perbuatan kepada Allah, baik yang dikerjakan makhluk itu baik ataupun keburukan. Semuanya adalah ciptaan Allah dan hamba hanya memiliki kasb saja. Tidak dinisbatkan ciptaan apapun kepada selain Allah, sebab jika dinisbatkan kepada selain-Nya maka ia akan menjadi syarîk dan niddan yang menyamai Allah dalam penisbatan amal perbuatan.
Al Kirmani berkata, “Judul bab ini mengesankan bahwa yang dimaksud adalah penetapan tidak adanya sekutu bagi Allah, maka pantasnya ia diletakkan di awal-awal bab Tauhid. Tetapi bukan itu yang dimaksud di sini, namun yang dimaksud adalah bahwa seluruh amal perbuatan hamba adalah ciptaan Allah, sebab jika amal mereka itu adalah ciptaan mereka sendiri niscaya mereka itu andâd bagi Allah dan sekutu-Nya dalam penciptaan… .”[5]
Abu Salafy berkata:
Yang ingin saya katakan di sini adalah pemahaman Ibnu Baththâl dan Imam al Kirmâni bahwa kata niddun tidak akan tepat makna kecuali jika dinisbatkan kepadanya penciptaan, sebab dengan demikian ia (niddun) itu menjadi syarîk/sekutu Allah, seperti dalam akidah kaum Musyrik Arab yang batil itu!
Jadi jika kita mengandalkan makna bahasa dari kata tersebut maka kita mesti mengatakan bahwa kata itu menunjuk kepada arti kata syarîk yang menyamai Allah dalam kekuasaannya secara independen dan mandiri. Karenanya ia berhak disebut niddun!
Wallahu A’lam.

http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/29/benarkan-kaum-musyrik-arab-beriman-kepada-tauhid-rububiyyah-a