Sabtu, 11 Juni 2011

ABDULLAH BIN ABBAS

0 komentar
ABDULLAH BIN ABBAS

Abdullah bin Abbas adalah pemuda yang dewasa, mempunyai lisan yang selalu bertanya dan akal yang sangat cerdas” (Umar bin Khattab)
Sungguh sahabat kita yang mulia ini mempunyai kemuliaan dalam segala hal. Tidak ada sedikitpun yang tidak terjamah dengan kemuliaannya. Kemuliaannya yang pertama ialah sebagai seorang sahabat Rasulullah. Meskipun dia dilahirkan jauh hari dari Rasulullah, namun Abdullah bin Abbas masih sempat mendapat kemuliaan untuk menjadi sahabat beliau.
Kemuliaan yang kedua ialah hubungan kerabatnya dengan Rasululllah. Abdullah bin Abbas adalah sepupu Rasulullah Saw. Kemuliaannya yang ketiga  adalah keilmuannya yang luas. Abdullah bin Abbas adalah seorang alim dan shalih dari kalangan umat nabi Muhammad. Dia juga merupakan lautan ilmu yang sangat dalam.
Kemuliaan yang lainnya adalah ketakwaanya. Abdullah bin Abbas merupakan orang yang sering puasa di siang hari, sering shalat tahajjud pada malam hari, dan sering beristighfar di waktu pagi menjelang subuh. Abdullah bin Abbas adalah orang yang sangat sering menangis karena takut kepada Allah. Karena seringnya beliau menangis air matanya membekaskan dua garis di pipinya.
Dialah Abdullah bin Abbas, pendidik yang alim dan mengenal Allah dari kalangan umat nabi Muhammad. Dia adalah orang yang paling mengetahui kitab Allah dan paling pandai dalam mentakwilkannya, paling pandai dalam menyelami kandungan-kandungannya, hingga menemukan maksud-maksud serta rahasia-rahasia al-Qur’an.
Abdullah bin Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Ketika Rasulullah wafat usianya tidak lebih dari 13 tahun saja.
Meskipun demikian namun Abdullah bin Abbas menghafal 1660 hadis Rasulullah untuk kaum muslimin yang sering diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam dua kitab shahihnya.
Ketika Abdullah bin Abbas dilahirkan, dia dibawa  menuju Rasulullah. Rasulullah memasukkan air liur beliau ke  tenggorokannya dengan tangan beliau. Sehingga yang pertama kali masuk ke dalam perutnya adalah air liur Rasulullah yang berkah dan suci. Bersamaan dengan masuknya air liur tersebut masuk pula takwa dan hikmah ke dalam dirinya.
“Barangsiapa yang diberikan hikmah maka sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak”
Ketika pemuda dari bani Hasyim itu menginjak dewasa dan mencapai usia baligh, ia selalu mendampingi Rasulullah. Kedekatannya seperti mata yang selalu mengikuti pemiliknya. Abdullah bin Abbas selalu menyiapkan air wudlu untuk Rasulullah ketika beliau hendak wudlu.
Saat Rasulullah shalat, Abdullah bin Abbas shalat di belakang beliau. Ketika Rasulullah bepergian, Abdullah bin Abbas selalu membonceng dibelakang beliau.
Kedekatannya dengan Rasulullah seperti bayangan beliau yang selalu mengikuti kemanapun beliau berjalan dan dimanapun beliau berputar.
Disamping Abdullah bin Abbas selalu mengikuti Rasulullah, Abdullah bin Abbas juga mempunyai hati yang sangat jernih, otak yang cerdas, dan sangat pandai menghafal meskipun tanpa alat penghafal yang canggih seperti sekarang.
Abdullah bin Abbas bercerita tentang dirinya,
Pada suatu ketika Rasulullah ingin berwudlu, dengan sigap aku menyiapkan air wudlu beliau. Rasulullah sangat senang dengan yang aku lakukan.
Ketika beliau hendak shalat, beliau menunjukku untuk shalat di samping beliau. Namun aku berdiri di belakang beliau. Selesai shalat beliau mencondongkan badan beliau ke arahku dan bertanya, “Apa yang menghalangimu untuk shalat di sampingku wahai Abdullah?” Aku menjawab, “Engkau lebih mulia dan lebih terhormat di pandanganku daripada aku berdiri di sampingmu.” Lalu Rasulullah mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, berikanlah hikmah kepadanya”
Dan ternyata Allah mengabulkan doa nabi Muhammad Saw.. Allah memberikan hikmah kepada Abdullah bin Abbas melebihi para ahli hikmah lainnya.
Tidak diragukan lagi, pasti anda sangat ingin untuk mendengarkan cerita demi cerita Abdullah bin Abbas. Inilah kisah-kisah yang anda inginkan.
Ketika sahabat Ali bin Abi Thalib berseteru dengan Muawiyah, para sahabat Ali meninggalkan dirinya. Abdullah bin Abbas berkata kepada Ali, “Wahai Amirul Mukminin, izinkanlah aku mendatangi kaummu dan menjelaskan kepada mereka.” Ali bin Abi Thalib menjawab, “Aku sangat mengkhawatirkanmu jika engkau terkena bahaya mereka.” Abdullah bin Abbas berkata, “Sekali-kali tidak mungkin hal itu akan terjadi, jika Allah menghendaki.”
Lalu Abdullah bin Abbas menemui mereka. Ketika melihat mereka ternyata tidak ada satu kaumpun yang lebih giat dalam beribadah melebihi mereka.
Mereka berkata, “Selamat datang wahai Ibnu Abbas! Ada apa engkau datang kemari?” Abdullah bin Abbas berkata, “Aku datang untuk memberikan penjelasan kepada kalian.”
Sebagian mereka menjawab, “Tidak usah kamu menjelaskannya pada kami.” Namun sebagian yang lainnya menjawab, “Jelaskanlah, kami akan mendengarkannya.”
Abdullah bin Abbas berkata, “Apa yang menyebabkan kalian mengingkari sepupu Rasulullah yang sekaligus menantu beliau dan juga orang yang pertama kali beriman pada beliau (Ali)?”
Mereka menjawab, “Kami mengingkari tiga hal darinya.”
Abdullah bin Abbas bertanya, “Apa saja itu?”
Mereka menjawab, “Yang pertama, karena dia menjadikan orang-orang yang berada di dalam agama Allah sebagai hakim[1]. Yang kedua, dia memerangi Aisyah dan Muawiyah, namun tidak mengambil ghanimah (rampasan perang)  dan tawanan perang. Yang ketiga, dia menghapus gelar Amirul Mukminin dari dirinya. Padahal kaum mukminin membaiatnya dan mengangkatnya menjadi pemimpin.”
Abdullah bin Abbas berkata, “Bagaimana jika aku bacakan ayat Al-Qur’an kepada kalian dan aku bacakan hadis Rasulullah yang tidak kalian ingkari. Apakah kalian akan merubah pendirian yang kalian pegang tersebut?”
Mereka menjawab, “Iya!”
Abdullah bin Abbas membacakan firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah Telah memaafkan apa yang Telah lalu. dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.(al-Maidah:95)
Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Aku bersumpah kepada kalian dengan nama Allah. Bagaimana tanggapan kalian dengan laki-laki yang menjaga harga diri, darah dan perdamaian di antara mereka dengan seekor kelinci yang harganya tidak lebih dari seperempat dirham. Apakah  menjaga diri, harta, dan perdamaian lebih berhak daripada menjaga kelinci?”
Mereka menjawab, “Yang lebih berhak adalah menjaga darah, diri dan perdamaian di antara mereka. “
Abdullah bin Abbas bertanya, “Sudahkah kalian faham dengan hal ini?”
Mereka menjawab, “Iya.”
Abdullah bin Abbas bertanya, “Jika kalian mengatakan, sesungguhnya Ali berperang namun tidak mengambil tawanan wanita, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Apakah kalian menghendaki jika Ali menawan Aisyah, ibu kalian dan menghalalkan kehormatannya (boleh dikumpuli) sebagaimana Rasulullah menawan perempuan lain? Jika kalian menghendaki Ali untuk menawan Aisyah, maka sungguh kalian telah kafir. Namun jika kalian mengatakan bahwa Aisyah bukan ibu kalian, maka sungguh kalian juga kafir, karena Allah Swt.  berfirman,”
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. (al-Ahzâb:6)
Abdullah bin Abbas bertanya, “Sudahkah kalian faham dengan hal ini?”
Mereka menjawab, “Iya.”
Abdullah bin Abbas menjawab, “Sekarang terserah kalian memilih yang mana saja.”
Abdullah bin Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian, sesungguhnya Ali menghapus gelar Amirul Mukminin dari dirinya. Alasannya adalah, pada peristiwa perjanjian Hudaibiyyah Rasulullah meminta kaum musyrikin untuk  menulis isi perjanjian itu dengan nama beliau Muhammad Rasulullah, namun mereka enggan dan berkata, “Kalimat ‘Rasulullah’ (Utusan Allah) inilah yang membuat kami memerangimu” tulislah Muhammad bin Abdullah.” Dan Rasulullahpun menuruti kemauan mereka. Beliau berkata, “Sungguh aku adalah Rasulullah, meskipun kalian mendustakanku. “
Abdullah bin Abbas kembali bertanya, “Apakah kalian sudah faham hal ini?”
Mereka menjawab, “Iya.”
Hasil dari pembicaraan Ali yang penuh dengan hikmah yang dalam dan alasan yang kuat ini adalah kembalinya 20.000 orang ke barisan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan 4000 orang lainnya masih memusuhi dan melawan Ali serta berpaling dari kebenaran.
Pemuda yang bernama Abdullah bin Abbas ini menempuh berbagai jalan untuk menuntut ilmu. Untuk meraih ilmu yang dia tuju dia mengerahkan segenap tenaganya.
Abdullah bin Abbas minum dari ‘sumber air’ Rasulullah selama hidup beliau. Ketika Rasulullah pulang ke haribaan Allah, Abdullah bin Abbas mencari ilmu dari para ulama’ yang masih tersisa. Dia mengambil ilmu dari mereka dan juga berguru secara tatap muka dengan mereka.
Abdullah bin Abbas bercerita tentang dirinya,
Apabila ada salah seorang sahabat yang menyampaikan hadis Rasulullah kepadaku, aku langsung mendatangi pintu rumah beliau di kala beliau sedang tidur siang. Aku membentangkan selendangku di teras rumahnya. Hingga angin-angin menerbangkan debu ke badanku. Seandainya saja aku meminta izin kepada beliau niscaya beliau mengizinkanku. Sungguh aku melakukan hal tersebut agar tidak mengganggu istirahat beliau.
Ketika Rasulullah keluar dari rumahnya dan melihat kondisi Abdullah bin Abbas seperti itu, beliau bertanya, “Wahai sepupu Rasulullah, apa yang mendorongmu untuk datang kepadaku? Tidakkah cukup engkau mengirim surat kepadaku kemudian aku mendatangimu?”
Abdullah bin Abbas berkata, “Aku lebih berhak untuk mendatangimu. Karena ilmu itu didatangi bukan mendatangi.” Baru setelah itu aku bertanya kepada beliau hadis yang beliau sabdakan.
Meskipun Abdullah bin Abbas menghinakan dirinya dalam menuntut ilmu namun dia sangat menghormati para ulama’.
Lihatlah ketika Zaid bin Tsabit, penulis wahyu dan pemimpin penduduk Madinah dalam masalah Fiqih, Qira’ah, dan ilmu Fara’idl (ilmu waris) menunggang kendaraannya, Abdullah bin Abbas, pemuda dari Bani Hasyim itu berdiri di hadapannya seperti berdirinya seorang budak kepada tuannya. Abdullah bin Abbas memegangi unta Zaid bin Tsabit dan memegang tali kendalinya.
Zaid berkata padanya, “Wahai sepupu Rasulullah, lepaskanlah tali itu!”
Ibnu Abbas berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berperilaku kepada  ulama’ kami.”
Zaid berkata, “Tunjukkan tanganmu padaku!”
Abdullah bin Abbas mengeluarkan dua tangan beliau. Pada waktu itu Zaid bin Tsabit membungkukkan tubuhnya dan mencium tangannya. Zaid berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berperilaku kepada keluarga nabi kami.”
Abdullah bin Abbas terbiasa mencari ilmu dengan cara seperti itu. Bahkan hal itu menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan bagi para pujangga.
Masru’ bin al-Ajda’, salah seorang tokoh tabi’in berkata, “Ketika aku melihat Abdullah bin Abbas, aku selalu mengatakan “inilah manusia yang paling tampan.”
Apabila aku mendengar dia berkata, aku mengucapkan, “Inilah orang yang paling fasih lisannya.”
Apabila dia berbicara tentang keilmuan aku berkata, “Inilah orang yang paling alim (luas wawasannya) di kalangan manusia.
Ketika keilmuan Abdullah bin Abbas hampir mencapai kesempurnaan yang dia inginkan, Abdullah bin Abbas menjadi guru bagi semua manusia.
Rumahnya adalah kampus bagi kaum muslimin. Ya, kampus dalam arti seperti di masa modern ini. Hanya saja terdapat perbedaan antara kampus Abdullah bin Abbas dengan kampus saat ini.
Kampus saat ini dipenuhi dengan puluhan dosen, sedangkan kampus Abdullah bin Abbas hanya bertumpu kepada satu dosen saja, yaitu Abdullah bin Abbas.
Salah seorang sahabatnya berkata, “Sungguh aku sudah tahu betul majlis Abdullah bin Abbas. Seandainya saja semua kaum Quraisy membanggakan majlis Abdullah bin Abbas, sungguh hal itu sudah tepat untuk menjadi kebanggaan.”
Aku melihat banyak sekali orang yang berkumpul di jalan yang menuju ke rumahnya, hingga jalan tersebut disesaki oleh mereka. Aku masuk ke dalam rumahnya dan memberitahunya bahwa manusia sudah berjejal-jejalan di pintu rumahnya.“
Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Sediakanlah air wudlu untukku!”
Setelah itu Abdullah bin Abbas berwudlu dan duduk. Dia berkata kepadaku, “Katakanlah kepada mereka, siapa yang menginginkan ilmu tentang al-Qur’an dan cara membacanya, silahkan masuk!”
Lalu aku keluar dan mengatakan hal itu kepada orang-orang yang sudah berdesakan diluar. Akhirnya mereka yang menginginkan ilmu tersebut masuk ke dalam rumahnya hingga memenuhi kamar beliau. Semua pertanyaan yang diajukan kepadanya, dia jawab dengan baik. Bahkan Abdullah bin Abbas menjawab melebihi apa yang mereka inginkan. Lalu Abdullah bin Abbas berkata kepada mereka, “Berikanlah jalan untuk saudara kalian yang lain!” Lalu mereka keluar.
Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Katakan kepada mereka, siapa yang ingin bertanya tentang tafsir dan takwil al-Qur’an silahkan masuk!” Lalu aku keluar dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.
Akhirnya mereka masuk dan memenuhi kamarnya. Semua pertanyaan mereka dia jawab dengan baik, bahkan dia jawab dengan jawaban yang lebih menyeluruh dari pertanyaan mereka. Setelah itu Abdullah bin Abbas berkata kepada mereka, “Berikanlah jalan untuk saudara kalian yang lain!” Lalu mereka keluar.
Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Keluarlah dan katakan kepada mereka, siapa yang ingin bertanya tentang halal dan haram serta hukum fikih, silahkan masuk!” Lalu aku keluar dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.
Akhirnya mereka masuk dan memenuhi kamarnya. Semua pertanyaan mereka dia jawab dengan baik, bahkan dia menjawab dengan jawaban yang lebih menyeluruh dari pertanyaan mereka. Setelah itu Abdullah bin Abbas berkata kepada mereka, “Berikanlah jalan untuk saudara kalian yang lain!” Lalu mereka keluar.
Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Keluarlah dan katakan kepada mereka, barangsiapa yang ingin bertanya tentang ilmu faraidl dan yang semisalnya, silahkan masuk!” Lalu aku keluar dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.
Akhirnya mereka masuk dan memenuhi kamarnya. Semua pertanyaan mereka dia jawab dengan baik, bahkan dia jawab dengan jawaban yang lebih menyeluruh dari pertanyaan mereka. Setelah itu Abdullah bin Abbas berkata kepada mereka, “Berikanlah jalan untuk saudara kalian yang lain!” Lalu mereka keluar.
Abdullah bin Abbas berkata kepadaku, “Keluarlah dan katakan kepada mereka, siapa yang ingin bertanya tentang syair, bahasa arab dan makna-makna kalimat asing silahkan masuk!” Lalu aku keluar dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.
Akhirnya mereka masuk dan memenuhi kamarnya. Semua pertanyaan mereka dia jawab dengan baik, bahkan dia jawab dengan jawaban yang lebih menyeluruh dari pertanyaan mereka.
Orang yang menceritakan hal ini mengatakan, “Seandainya semua orang Quraisy membanggakan hal tersebut, sungguh hal itu sudah merupakan sebuah kebanggaan.”
Abdullah bin Abbas mempunyai keinginan untuk membagikan ilmu sesuai hari-hari yang ada, hingga tidak terjadi desak-desakan di pintunya seperti hari itu. Abdullah bin Abbas membagi satu hari dalam satu minggu khusus untuk mempelajari ilmu tafsir. Satu hari berikutnya khusus untuk mempelajari ilmu fikih. Satu hari berikutnya khusus untuk mempelajari sejarah peperangan Rasulullah, satu hari berikutnya khusus untuk mempelajari syair, satu hari berikutnya khusus untuk mempelajari hari-hari orang Arab. Semua orang alim yang duduk di majlisnya tunduk padanya. Semua yang bertanya kepadanya pasti akan mendapatkan ilmu.
Abdullah bin Abbas juga merupakan orang yang selalu diajak bermusyawarah oleh para khalifah karena kelebihan ilmunya dan kefakihannya. Meskipun saat itu usianya masih muda.
Apabila Umar bin Khattab memiliki masalah yang sangat sukar diselesaikan, dia memanggil semua sahabatnya. Di antara orang yang dia undang adalah Abdullah bin Abbas. Apabila Abdullah bin Abbas datang, Umar meninggikan tempat duduk Abdullah bin Abbas, sedangkan dia sendiri merendahkan tempat duduknya.
Umar berkata kepadanya, “Saya mempunyai masalah yang sangat berat sekali, hanya orang-orang yang semisalmu yang dapat menyelesaikan masalah tersebut.”
Pernah suatu ketika Umar dikritik karena mengundang Abdullah bin Abbas dan mengikutsertakannya dalam kumpulan para sahabat. Abdullah bin Mas’ud masih terlalu muda, alasan mereka. Lalu Umar bin Khattab menjawab, “Sungguh Abdullah bin Abbas adalah pemuda yang berfikiran dewasa, mempunyai lisan yang selalu bertanya, mempunyai akal yang cerdas.”
Meskipun Abdullah bin Abbas selalu pergi untuk mengajarkan ilmu kepada orang-orang tertentu namun dia tidak melupakan haknya kepada orang-orang awam. Dia juga mempunyai majlis untuk memberikan nasihat dan peringatan.
Di antara nasihatnya ialah, nasihat  kepada para pelaku dosa,
“Wahai para pelaku dosa, janganlah kalian merasa aman dari siksaan yang disebabkan oleh dosa kalian. Ketahuilah, dosa yang kalian lakukan akan selalu diiringi dosa yang lebih besar dari dosa yang kalian lakukan. Ketiadaan rasa malu kepada orang yang berada di sebelah kanan dan kirimu ketika engkau melakukan perbuatan dosa tidaklah mengurangi dosa kalian. Tertawa kalian saat melakukan dosa, sungguh lebih besar dosanya daripada dosa yang kalian lakukan. Kalian melakukan perbuatan dosa, padahal kalian tidak tahu apa yang akan Allah perbuat untuk kalian. Kebahagiaan kalian ketika berhasil  melakukan dosa, lebih besar dosanya daripada dosa yang kalian lakukan. Kesedihan kalian karena tidak bisa melakukan dosa, merupakan dosa yang lebih besar daripada dosa itu sendiri. Ketakutan kalian jika perbuatan dosa yang kalian lakukan diketahui manusia adalah dosa yang lebih besar dari dosa yang kalian lakukan. Apalagi jika hati kalian pada waktu itu tidak sedikitpun ada rasa takut dengan pengawasan Allah. Wahai para pelaku dosa, tahukan kalian apa dosa nabi Ayyub As. ketika Allah menimpakan cobaan pada diri dan hartanya? Dosanya pada waktu itu hanyalah karena dia tidak memberikan pertolongan kepada orang yang datang meminta tolong padanya.”
****
Abdullah bin Abbas bukanlah merupakan tipe orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan, bukan pula seperti orang yang melarang sesuatu padahal dia sendiri melakukannya. Abdullah bin Abbas adalah orang yang ahli puasa di siang hari dan ahli shalat tahajjud pada malam hari.
Abdullah bin Malikah menceritakan tentang Abdullah bin Abbas. Dia berkata, “Dulu aku pernah menemani Abdullah bin Abbas bepergian dari Makkah menuju Madinah. Apabila kami singgah di sebuah rumah, kami melakukan shalat di separuh malam ketika semua manusia tertidur karena kecapekan yang luar biasa. Pada suatu malam aku melihatnya membaca ayat,
وَ جآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ
“Dan datanglah sakaratul maut dengan nyata, pada waktu itu kalian tidak bisa melarikan diri…”(Qaf:19)
Abdullah bin Abbas mengulang-ulang ayat itu dan menangis dengan suara yang keras hingga matahari terbit.”
****
Setelah kita mengenal Abdullah bin Abbas, cukuplah bagi kita untuk mengatakan bahwa Abdullah bin Abbas adalah orang yang paling menawan di antara semua manusia dan paling cerah wajahnya. Abdullah bin Abbas selalu menangis di tengah malam karena takut kepada Allah hingga air matanya yang deras meninggalkan dua bekas pada kedua pipinya yang indah. Bekas itu menyerupai bekas tali sandal.
Abdullah bin Abbas mencapai puncak kemuliaan ilmu yang paling tinggi. Hal itu terbukti ketika pada suatu hari khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan keluar untuk menunaikan ibadah haji. Abdullah bin Abbas pada waktu itu juga keluar untuk menunaikan ibadah haji. Waktu itu Abdullah bin Abbas tidak memiliki kekuasaan atau kerajaan. Muawiyah membawa rombongan yang sangat banyak yang terdiri dari para pegawai pemerintahannya. Namun ternyata Abdullah bin Abbas juga mempunyai rombongan yang sangat banyak melebihi rombongan khalifah Muawiyah. Rombongan tersebut adalah para pencari ilmu.
Abdullah bin Abbas hidup di dunia selama 71 tahun. Selama hidupnya dia memenuhi dunia dengan ilmu, hikmah dan takwa.
Ketika Abdullah bin Abbas meninggal dunia, Muhammad bin Hanafiyyah[2] juga turut menyolatkannya. Sedangkan yang lainnya ialah para sahabat yang masih hidup dan juga para tabi’in.
Ketika mereka menaburkan tanah di atas kuburannya, tiba-tiba mereka mendengar seseorang yang membaca,
Artinya,
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kepada tuhanMu dengan hati yang ridha dan diridhai * Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah surgaKu. (al-Fajr: 27-30) [3]

[1] Yang mereka maksud adalah, Ali menerima orang-orang dari Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin Ash dalam mengadili antara Ali dan Muawiyah.
[2] Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Dia dinisbatkan kepada ibunya, untuk membedakan antara Hasan dan Husain. Ibu Hasan dan Husain adalah Fatimah, sedangkan ibu Muhammad adalah seorang perempuan dari bani Hanifah.

JA’FAR BIN ABDUL MUTHALIB

0 komentar

JA’FAR BIN ABDUL MUTHALIB

 
Aku melihat Ja’far di surga mempunyai dua sayap yang basah mengeluarkan darah (Hadis nabi)
Dari keturunan bani Abdi Manaf, ada lima orang yang sangat mirip sekali dengan Rasulullah. Hingga banyak sekali mata yang tidak mengetahui apakah itu Rasulullah atau bukan.
Tidak diragukan lagi pasti para pembaca yang budiman ingin mengetahui siapa saja lima orang yang menyerupai Rasulullah Saw. tersebut.
Mari kita mengenal mereka. Mereka adalah, yang pertama, Abu Sufyan bin Haris bin Abdul Muthalib, sepupu Rasulullah dan saudara sepersusuan beliau. Yang kedua, Qutsam bin Abbas bin Abdul Muthalib, juga sepupu beliau. Yang ketiga, Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim, kakek Imam Syafi’i Ra. Yang keempat adalah, Hasan bin Ali, cucu Rasulullah Saw, dialah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Sedangkan yang terakhir adalah Ja’far bin Abdul Muthalib, saudara Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib.
Mari kita simak bersama-sama sejarah kehidupan Ja’far.
Abu Thalib, adalah orang yang mempunyai anak banyak dan kehidupan yang sederhana, meskipun dikenal dengan kemuliaan dan ketinggian derajatnya di kalangan kaum Quraisy.
Dari hari ke hari kondisinya semakin kekurangan karena musim paceklik di Makkah saat itu. Semua binatang ternak mati, dan semua manusia hanya bisa makan tulang-tulang kering.
Pada waktu itu dari kalangan bani Hasyim tidak ada orang yang lebih kaya dari Muhammad bin Abdillah dan pamannya Abbas.
Muhammad berkata kepada Abbas, “Wahai pamanku, sesungguhnya saudaramu, Abu Thalib mempunyai keluarga yang banyak. Sedangkan saat ini semua orang tertimpa musim paceklik hingga kelaparan, sebagaimana yang engkau lihat. Pergilah bersamaku untuk lalu kita menanggung salah satu di antara keluarganya. Aku menanggung satu anaknya dan engkau menanggung satu anaknya yang lain kemudian kita cukupi nafkahnya.
Akhirnya keduanya pergi hingga sampai di rumah Abu Thalib. Sesampainya di rumah Abu Thalib keduanya berkata, “Kedatangan kami untuk meringankan beban keluarga yang engkau tanggung agar engkau dapat terhindar dari krisis yang menimpa penduduk kita.”
Abu Thalib berkata, “Jika yang kalian ambil bukan Aqil bin Abu Thalib, maka silahkan.” Lalu nabi Muhammad mengambil Ali sebagai tanggungannya, sedangkan Abbas mengambil Ja’far dan membawanya berkumpul bersama keluarganya.
Ketika Ali hidup bersama Rasulullah, Allah mengutusnya dengan membawa agama petunjuk dan kebenaran. Ali adalah pemuda pertama yang beriman kepada Rasulullah.
Sedangkan Ja’far hidup bersama Abbas hingga besar kemudian masuk islam dan mengambil manfaat dari Islam. Ja’far bin Abi Thalib masuk ke dalam Islam bersama istrinya Asma’ binti Umais sejak pertama kali Rasulullah diutus.
Keduanya masuk Islam lewat perantara Abu Bakar as-Shiddiq sebelum Rasulullah masuk ke Darul Arqam.
Ja’far beserta istrinya juga merasakan gangguan kaum Quraisy sebagaimana yang dirasakan oleh kaum muslimin generasi pertama lainnya. Keduanya menjalani semuanya dengan sabar, karena mereka yakin bahwa jalan masuk menuju surga dipenuhi dengan duri-duri yang menyakitkan. Namun yang melemahkan semangat mereka adalah melarang mereka untuk melaksanakan syariat Islam. Kaum Quraisy juga melarang mereka merasakan nikmatnya ibadah. Mereka selalu mengawasi kaum muslimin dari berbagai arah dan selalu mengintai mereka.
Pada waktu itulah Ja’far bin Abi Thalib beserta istrinya minta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah ke Habasyah bersama dengan beberapa orang dari kalangan sahabat. Rasulullah mengizinkan mereka dengan penuh kesedihan yang menyelimuti beliau.
Rasulullah merasa berduka karena para sahabat yang sangat baik dan suci itu hendak meninggalkan rumah mereka dan meninggalkan kampung halaman tempat dimana mereka dibesarkan. Mereka meninggalkan tempat yang dulu mereka nimati sewaktu remaja bukan karena sebab dosa yang mereka lakukan. Mereka hanya mengatakan, “Sesembahan kami adalah Allah.” Namun Rasulullah juga sadar bahwa beliau tidak mempunyai daya dan kekuatan untuk menghadapi siksaan kafir Quraisy.
Berangkatlah rombongan pertama hijrah menuju Habasyah di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib Ra. Mereka hidup di bawah perlindungan raja Najasyi, raja mereka yang adil dan shaleh.
Untuk pertama kalinya setelah mereka masuk Islam mereka mendapatkan rasa aman. Mereka dapat merasakan manisnya ibadah tanpa diganggu oleh siapapun yang merusak kenikmatan beribadah atau kebahagiaan mereka.
Namun kafir Quraisy ketika mengetahui perginya beberapa kaum muslimin ke negeri Habasyah, mereka tidak tinggal dengan kaum muslimin yang merasakan nikmatnya ibadah dan merasakan aman yang mereka. Kafir Quraisy memberikan ancaman kepada raja Habasyah agar membunuh kaum muslimin atau memulangkan mereka menuju penjara besar (Makkah).
Kita simak bersama penuturan Ummu Salamah yang mendengar dan melihat peristiwa tersebut dengan mata kepala dan telinganya sendiri.
Ummu Salamah bercerita,
Ketika kami sampai di Habasyah, kami merasakan hubungan pertetanggaan yang baik. Kami merasa aman dengan agama kami. Kami menyembah Allah Swt. tanpa ada gangguan atau kami mendengar sesuatu yang kami benci. Ketika kaum Quraisy mengetahui hal tersebut mereka mengirimkan dua juru runding yang sangat kuat kepada raja Najasyi. Kedua orang kuat tersebut adalah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Keduanya membawa hadiah yang sangat melimpah dan terbaik dari  negeri Hijaz untuk raja Najasyi dan para pendeta mereka. Kaum Quraisy memberikan perintah kepada keduanya agar memberikan hadiah yang sangat berharga tersebut kepada semua pendeta sebelum mereka berbicara dengan raja Najasyi mengenai masalah kaum muslimin.
***
Sesampainya kedua Quraisy itu di Habasyah keduanya langsung membagi-bagikan hadiah tersebut kepada semua pendeta. Mereka semua mendapatkannya tanpa ada yang tidak mendapatkannya satu orangpun. Kedua orang tersebut berkata kepada raja Najasyi, “Ada beberapa orang kaumku yang bodoh tinggal di negeri raja. Mereka keluar dari agama nenek moyang mereka dan mereka memecah belah persatuan negeri kami. Jika nanti kami merundingkan masalah ini dengan raja, maka bantulah kami untuk mendesaknya agar menyerahkan kaum kami tanpa bertanya tentang agama mereka. Karena tokoh mereka lebih mengetahui agama mereka dan lebih mengetahui keyakinan mereka.”
Para pendeta menjawab, “Baiklah.”
Ummu Salamah berkata, “Yang paling dibenci oleh Amr bin Ash dan temannya ialah apabila raja Najasyi memanggil dan mendengarkan alasan  salah seorang dari kami.
Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah menghadap raja Najasyi dan memberikan hadiah yang mereka bawa kepadanya. Raja Najasyi sangat senang dan kagum dengan hadiah tersebut. Akhirnya kedua orang Quraisy tersebut berkata, “Wahai Raja, ada beberapa orang-orang jahat dari kaum kami yang berlindung ke negerimu. Mereka pergi dengan membawa agama yang tidak kami tidak kenal dan kalianpun tidak mengenalnya. Mereka meninggalkan agama kami dan tidak masuk ke dalam agamamu.”
“Kami diutus oleh para pemuka kaum mereka, bapak maupun keluarga mereka agar engkau mengembalikan mereka pada kami. Mereka adalah manusia yang paling pandai melakukan fitnah.
Raja Najasyi melihat para pendetanya, para pendeta berkata, “Keduanya benar wahai Raja.  Para tokoh mereka lebih mengetahui tentang mereka. Kembalikanlah orang-orang tersebut ke negeri mereka dan biarkanlah pemuka kaum mereka yang mengambil tindakan.”
Sang raja sangat marah dengan perkataan pendetanya. Raja berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka sebelum aku memanggil mereka. Aku akan menanyakan kepada mereka dengan pengakuan yang kalian lontarkan pada mereka. Jika mereka seperti yang disampaikan oleh kedua orang tersebut maka aku akan menyerahkan mereka untuk kalian berdua. Jika ternyata mereka tidak seperti yang dituduhkan, maka aku akan tetap melindungi mereka, berbuat baik dengan mereka dan bertetangga dengan mereka selagi mereka mau tinggal di negeri kami.”
****
Ummu Salamah melanjutkan ceritanya,
Lalu raja Najasyi memanggil kami untuk bertemu dengannya. Sebelum kami menghadapnya kami mengadakan musyawarah. Salah seorang dari kami berkata, “Nanti raja akan bertanya kepada kalian tentang agama kalian. Tunjukkanlah keimanan yang kalian pegang. Hendaklah yang berbicara adalah Ja’far bin Abi Thalib, jangan ada yang berbicara selainnya.”
Kemudian kami pergi menghadap raja Najasyi. Kami dapati raja sudah memanggil para pendetanya. Mereka duduk di samping kanan dan samping kiri raja. Mereka memakai jubah dan peci mereka, mereka juga membentangkan kitab di depan mereka. Di dekat mereka ada Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah.
Ketika kami sudah duduk tenang, raja Najasyi menoleh ke arah kami dan bertanya, “Apa agama yang kalian sering bincangkan hingga sebab agama itu kalian berpisah dengan kaum kalian. Kalian juga tidak masuk ke dalam agamaku, dan juga tidak masuk dalam agama manapun.”
Majulah Ja’far bin Abi Thalib dan berkata, “Wahai raja, dulu kami adalah kaum jahiliyyah (bodoh). Kami menyembah berhala dan makan bangkai, kami melakukan perbuatan keji dan memutuskan tali persudaraan dan kami berbuat jahat dengan tetangga. Orang-orang yang kuat di antara kami memakan yang lemah. Kami terus menerus dalam kondisi seperti itu hingga Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami. Kami mengetahui nasabnya, kejujurannya, amanatnya, dan kehati-hatiannya dalam menjaga diri.”
“Rasul tersebut menyeru kami untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan dengan siapapun. Dia juga memerintahkan kami untuk meninggalkan sesembahan yang dulu kami sembah dari selainNya baik itu berupa patung maupun berhala dari batu.”
“Rasulullah memerintahkan kami untuk berkata jujur, menunaikan amanat, menyambung tali silaturrahim dan bertetanggga dengan baik. Dia menyuruh kami untuk menghindari hal-hal haram dan pertumpahan darah. Rasulullah juga melarang kami dari perbuatan keji, dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita baik-baik berzina.”
“Rasulullah memerintahkan kami untuk mengesakan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, dan berpuasa di bulan Ramadlan.”
“Kami membenarkannya dan beriman dengannya. Kami mengikuti semua yang turun dari Allah. Kami menghalalkan yang Allah halalkan dan mengharamkan yang Allah haramkan untuk kami.”
“Wahai Raja, sedangkan kaum kami memusuhi kami menyiksa kami dan siksaan yang sangat pedih agar kami keluar dari agama kami dan mengembalikan kami pada peribadatan kepada patung.”
“Ketika mereka terus menzalimi kami, memaksa kami, menyudutkan kami, dan menghalang-halangi kami dari agama kami, akhirnya kami pergi ke negerimu. Kami lebih memilihmu dari selainmu. Kami lebih senang hidup berdampingan denganmu dengan harapan engkau tidak berbuat zalim pada kami.”
Lalu Raja Najasyi menoleh ke arah Ja’far bin Abi Thalib dan bertanya, “Apakah engkau membawa sesuatu yang dibawa oleh nabiMu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Iya, kami membawanya.” Raja Najasyi berkata, “Bacakanlah padaku!”
Lalu Ja’far bin Abi Thalib membaca,
Èÿè‹g!2 ÇÊÈ ãø.ÏŒ ÏMuH÷qu‘ y7În/u‘ ¼çny‰ö7tã !$­ƒÌŸ2y— ÇËÈ øŒÎ) 2”yŠ$tR ¼çm­/u‘ ¹ä!#y‰ÏR $wŠÏÿyz ÇÌÈ
1.Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad.2.(yang dibacakan Ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, 3.  Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (Maryam: 1-3)
Ja’far bin Abi Thalib membaca hingga selesai permulaan surat.
Mendengar ayat tersebut raja Najasyi menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi jenggotnya. Para pendetanyapun juga turut menangis hingga membasahi kitab mereka setelah mereka mendengar ayat Allah.
Di sinilah raja Najasyi berkata kepada kami, “Inilah yang dibawa nabi kalian dan nabi Isa dari satu cahaya.”
Kemudian raja Najasyi menoleh ke arah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah seraya berkata, “Pergilah, demi Allah, selamanya kami tidak akan menyerahkan mereka kepadamu.”
Ummu Salamah berkata, “Ketika kami keluar dari hadapan raja Najasyi, Amr bin Ash mengancam kami dan berkata kepada temannya, “Demi Allah, besok aku akan menghadap raja Najasyi. Aku akan menyebutkan masalah-masalah agama mereka yang membuat dadanya dipenuhi dengan api kemarahan dan kebencian kepada mereka. Aku juga akan membuat raja Najasyi mencabut mereka hingga ke akar-akarnya.”
Lalu Abdullah bin Abi Rabi’ah berkata, “Janganlah engkau melakukan hal tersebut wahai Amr bin Ash. Mereka juga saudara kita, meskipun mereka berbeda dengan kita.”
Amr bin Ash menjawab, “Biarkanlah aku! Biarkanlah aku! Demi Allah aku akan memberitahukannya dengan apa yang membuat kaki mereka terguncang. Demi Allah aku akan mengatakan kepada raja Najasyi bahwa mereka mengatakan bahwa Isa adalah budak.”
Dan benar, keesokan harinya Amr menghadap raja Najasyi. Amr berkata kepada raja Najasyi, “Wahai raja, sesungguhnya mereka yang berlindung kepadamu mengatakan masalah yang sangat fatal tentang Isa bin Maryam. Panggillah mereka dan tanyakan pada mereka masalah tersebut.”
Ummu Salamah bercerita, “Ketika kami mendengar hal tersebut kami merasa gundah dan panik, kami belum pernah sedikitpun merasakan kondisi tersebut.”
Salah seorang dari kami berkata, “Apa yang akan kalian katakan jika raja Najasyi bertanya mengenai Isa bin Maryam?”
Lalu kami berkata, “Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kecuali seperti yang dikatakan Allah. Kami tidak akan keluar seujung kukupun dari yang dibawa Rasulullah. Semoga dengan itu akan terjadi apa yang akan terjadi.”
Akhirnya kami sepakat bahwa yang akan memberikan jawaban juga Ja’far bin Abi Thalib.
Ketika raja Najasyi memanggil kami, kamipun menghadapnya. Kami mendapati para pendeta di sekitar raja dengan kitab di depan mereka, persis seperti hari sebelumnya. Di hadapan raja juga terdapat Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah.
Ketika kami sudah berada di hadapan raja, dengan segera raja bertanya kepada kami, “Apa yang kalian katakan mengenai Isa bin Maryam?”
Ja’far bin Abi Thalib menjawabnya, “Kami akan mengatakannya sesuai dengan yang dikatakan oleh nabi kami Saw.”
Raja Najasyi bertanya, “Apa yang dikatakan oleh nabi kalian?”
Ja’far menjawab, “Nabi kami mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan RasulNya. Isa adalah utusan Allah dan kalimatNya yang dia titipkan dalam janin Maryam, wanita yang suci dan masih gadis.”
Ketika raja Najasyi mendengar jawaban Ja’far, seketika dia memukulkan tangannya ke atas tanah seraya berkata, “Demi Allah, tidaklah Isa bin Maryam keluar seujung rambutpun dari yang kalian sampaikan dari nabi kalian.”
Terdengar suara berisik dari para pendeta sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka terhadap perkataan raja Najasyi. Raja Najasyi berkata, “Meskipun kalian tidak setuju.”
Lalu raja Najasyi menoleh ke arah kami seraya berkata, “Pergilah kalian, akan kujamin keselamatan kalian. Barangsiapa yang mencela kalian, maka dia akan celaka. Siapa yang melawan kalian maka akan mendapat hukuman. Demi Allah aku tidak senang memiliki segunung emas, sedangkan salah seorang dari kalian tertimpa perbuatan yang tidak diinginkan.”
Lalu raja Najasyi menoleh ke arah Amr bin Ash dan sahabatnya seraya berkata, “Kembalikan hadiah-hadiah kepada kedua orang ini! Aku tidak membutuhkannya!”
Ummu Salamah berkata, “Keluarlah Amr bin Ash dan sahabatnya dalam keadaan malu, terhina dan perasaannya hancur bertubi-tubi. Sedangkan kami tetap tinggal di rumah yang paling mulia dan tetangga yang paling baik.
****
Ja’far bin Abi Thalib beserta istrinya tinggal di Habasyah dengan penghormatan dari raja Najasyah selama 10 tahun dalam keadaan tenang dan tenteram.
Dan pada tahun 7 H keduanya pergi meninggalkan Habasyah bersama dengan beberapa kaum muslimin menuju kota Madinah. Sesampainya mereka di Madinah ternyata Rasulullah juga baru saja kembali dari Khaibar[1], setelah Allah menaklukkannya.
Rasulullah Saw. sangat bahagia sekali bertemu dengan Ja’far.  Aku tidak tahu apakah yang paling membuat beliau bahagia. Apakah karena ditaklukkannya benteng Khaibar ataukah karena bertemu dengan Ja’far?
Kebahagiaan semua kaum muslimin dan orang-orang miskin dengan kedatangan Ja’far bin Abi Thalib belum seberapa dibandingkan kebahagiaan beliau.
Ja’far adalah orang yang sangat sayang dan pengertian dengan orang-orang miskin bahkan sering berbuat baik kepada mereka, hingga mendapatkan julukan ‘Ayah orang-orang miskin’.
Abu Hurairah menceritakan masalah tersebut, “Sebaik-baik manusia untuk kami orang miskin adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dia sering mengajak kami ke rumahnya dan memberikan kami semua makanan yang dia miliki. Hingga ketika semua makanannya sudah habis, dia mengeluarkan kantong yang biasa dia pakai untuk tempat keju. Keju yang ada di dalamnya sudah habis. Lalu kami membelahnya dan menjilati sisa-sisa keju yang ada di dalamnya.
Ja’far tidak tinggal lama di Madinah. Pada awal tahun 8 Hijrah Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan untuk memerangi bangsa Romawi. Rasulullah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima dalam pasukan tersebut. beliau bersabda, “Jika Zaid terbunuh atau terluka, maka panglima yang menggantikannya adalah Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far bin Abi Thalib terbunuh, maka panglima yang menggantikannya adalah Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah bin Rawahah juga terbunuh, maka biarlah kaum muslimin yang memilih sendiri panglima dari kalangan mereka.”
Dan ketika pasukan muslimin sampai di Mu’tah, yaitu sebuah desa yang terletak di depan Syam, Yordania. Mereka mendapati pasukan Romawi mengerahkan 100.000 pasukannya ditambah dengan 100.000 pasukan nasrani dari kalangan arab yang berasal dari kabilah Lakhm, Judzam dan Qudza’ah dsb.
Sedangkan pasukan muslimin hanya berjumlah 3000 pasukan.
Ketika perang mulai berkecamuk, seketika itu juga Zaid bin Haritsah tersungkur syahid dalam keadaan menghadapi peperangan bukan melarikan diri. Dengan cepat Ja’far bin Abi Thalib melompat ke atas kuda yang baru saja ditunggangi Zaid. Ja’far menusuk kuda tersebut hingga mati agar tidak dapat digunakan oleh musuh.
Ja’far merengsek ke dalam barisan musuh dengan membawa panji perang seraya bersyair,
Alangkah indahnya surga
Isinya menyenangkan dan makanannya lezat-lezat
Sedangkan bangsa Romawi telah dengan siksaannya
Mereka adalah bangsa kafir, jauh dari keluarganya
Apabila aku berhadapan dengan mereka aku harus membunuhnya
Ja’far berkeliling di barisan musuh dengan menghunus pedangnya, hingga tangan kanannya terkena sabetan pedang hingga tangan kanannya putus. Lalu Ja’far membawa panji perang dengan tangan kirinya. Tidak berselang lama tangan kirnya juga mendapatkan sabetan pedang hingga putus. Ja’far membawa panji perang itu dengan dada dan kedua lengannya. Tidak lama berselang Ja’far tertimpa pukulan pedang yang ketiga hingga membelah tubuhnya menjadi dua. Akhirnya Abdullah bin Rawahah mengambil panji perang tersebut dari Ja’far. Abdullah bin Rawahah terus berperang hingga mendapatkan syahid.
Berita terbunuhnya tiga panglima Rasulullah sampai di telinga beliau. Rasulullah sangat sedih sekali. Seketika itu juga beliau pergi ke rumah sepupunya, Ja’far bin Abi Thalib dan mendapati istrinya, Asma’ bersiap-siap menanti kehadiran suaminya yang pergi.
Asma’ sudah membuatkan adonan kue untuk Ja’far dan juga sudah memandikan anak-anaknya, memberikan wangi-wangian dan memakaikan mereka pakaian yang paling baik.
Asma’ berkata, “Ketika Rasulullah Saw. menemui kami raut muka kesedihan menggelayuti wajah beliau yang mulia. Kecemasan hinggap dalam diriku. Hanya saja aku tidak mau bertanya kepada beliau mengenai Ja’far bin Abi Thalib karena takut jika aku mendengar berita yang tidak aku inginkan dari beliau.”
Lalu Rasulullah mengucapkan salam pada kami dan berkata, “Panggillah anak-anak Ja’far agar menghadapku!” Akupun memanggil mereka agar bertemu Rasulullah.
Mereka berlarian gembira dan menggeram. Mereka mengerubuti beliau. Semuanya ingin dekat dengan beliau. Lalu Rasulullah merangkul mereka dan mencium mereka. Dan kedua matanya mengeluarkan air mata yang terus menetes dari matanya.
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau mendengar berita mengenai Ja’far dan kedua sahabatnya?” Beliau menjawab…..beliau menjawab, “Iya, sungguh mereka bertiga mati syahid pada hari ini juga.”
Mendengar perkataan Rasulullah, sirnalah senyum yang menghiasi wajah-wajah kecil anakku, apalagi ketika ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka berdiri tegak di tempat mereka. Mereka tidak bergerak sedikitpun, seakan-akan di atas mereka ada burung yang hinggap.
Sedangkan Rasulullah pergi dengan mengusap air mata yang menetes dari matanya. Beliau berdoa, “Ya Allah, berilah ganti dari Ja’far kepada anak-anaknya…. Ya Allah, berilah ganti dari Ja’far kepada keluarganya…” Lalu Rasulullah kembali bersabda, “Sungguh aku melihat Ja’far berada di surga, dia memiliki dua sayap yang berlumuran darah. @@@.”

[1] Khaibar adalah benteng kaum Yahudi, Rasulullah menaklukkannya pada tahun 7 H. beliau juga mendapat rampasan perang yang sangat banyak.

AT-THUFAIL BIN AMR AD-DAUSI

0 komentar
“Ya Allah turunkanlah satu ayat untuknya agar dapat membantunya untuk setiap kebaikan yang dia niatkan.”(salah satu doa Rasulullah ` kepada Thufail)

Thufail bin Amr ad-Dausi adalah salah seorang pemuka suku ad-Daus pada masa jahiliyyah. Dia juga termasuk salah seorang tokoh di kalangan penduduk arab yang mempunyai derajat yang tinggi. Thufail merupakan salah seorang di antara orang sekian banyak orang yang mempunyai keindahan akhlak.
Bejana miliknya tidak pernah diangkat dari api, pintunya tidak pernah tertutup bagi siapapun yang mengetuk pintu rumahnya. Sa’id selalu  memberi makan orang-orang yang lapar, memberikan keamanan bagi orang yang sedang dilanda ketakukan dan memberikan tempat tinggal bagi orang yang membutuhkannya.
Thufail bin Amir adalah ahli sastra yang sangat cerdas dan pandai; salah seorang ahli syair yang dapat menajamkan perasaan. Perasaannya sangat lembut, sangat mengetahui kata-kata yang manis dan kata-kata yang pedas. Thufail sangat mengetahui kata-kata yang bisa menarik perhatian.
Thufail meninggalkan perkampungannya di Tihamah[1] menuju Makkah. Pada waktu itu terjadi pertikaian antara nabi Muhammad ` dengan orang-orang Kafir Quraisy. Masing-masing dari mereka mencari orang yang dapat menolongnya. Mereka juga saling mencari orang-orang yang dapat membantu kelompok mereka. Adapun Rasulullah ` selalu meminta pertolongan kepada Allah l,, , sedangkan senjatanya adalah kebenaran dan keimanan. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy  memerangi dakwah Rasulullah ` dengan berbagai senjata yang ada dan menghalang-halangi manusia dari dakwahnya dengan segala cara.
Thufail menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa persiapan. Dia masuk ke dalam peperangan tersebut dengan tanpa tujuan yang jelas.
Thufail  pergi ke Makkah tidak bermaksud untuk mengikuti peperangan tersebut. Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya masalah orang-orang Quraisy dengan nabi Muhammad.
Dari peperangan inilah terdapat sejarah tentang Thufail bin Amr yang tidak pernah terlupakan. Marilah kita simak kisah-kisahnya,  karena ini merupakan sebuah kisah yang sangat menarik. Thufail bercerita,
Aku pergi menuju Makkah, sesampainya di Makkah para pembesar Quraisy segera mendekatiku dan menyambutku dengan sambutan yang sangat hangat. Mereka mengajakku untuk singgah di rumah orang yang paling mulia di antara mereka.
Para pembesar dan pemuka Quraisy berkumpul padaku dan berkata, “Wahai Thufail, sungguh engkau sudah mendatangi negeri kami. Perlu kamu ketahui bahwa orang yang mengaku nabi tersebut sudah merusak urusan dan memecah belah hubungan kami serta menceraiberaikan persatuan kami. Sesungguhnya kami sangat khawatir jika Muhammad masuk ke dalam negerimu dan memecah belah para pemuka negerimu sebagaimana yang terjadi pada kami. Janganlah engkau mendengarkan perkataan orang tersebut (Muhammad), karena perkataanya sangat memikat laksana sihir. Muhammad akan memisahkan antara seorang anak dan ayahnya, antara satu saudara dengan saudara lainnya, dan antara suami dengan istrinya.”
Thufail berkata, “Demi Allah orang-orang Quraisy selalu menceritakan kepadaku kisah-kisah yang aneh tentang nabi Muhammad. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan perilaku Muhammad yang aneh, hingga aku bertekad untuk tidak mendekati Muhammad, mengajak berbicara maupun mendengar perkataannya. Dan ketika aku pergi ke masjid untuk thawaf di Ka’bah dan  meminta berkah kepada semua berhala yang ada di sana, aku menutupi kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar sedikitpun perkataan Muhammad.
Akan tetapi ketika aku masuk ke dalam masjid, aku mendapati Rasulullah `,, sedang melakukan shalat yang berbeda dengan shalat kami dan melakukan peribadatan di Ka’bah yang berbeda dengan peribadatan kami. Lalu tanpa sadar aku mendekatinya sedikit demi sedikit.
Dan ternyata Allah berkehendak lain. Sebagian perkataan Muhammad sampai di telingaku. Aku mendengarkannya dan ternyata perkataan itu sangat indah sekali. Aku berkata dalam diriku, “Wahai Thufail celaka kamu, sungguh engkau adalah ahli sastra yang sangat pandai sekali. Engkau mampu  membedakan kebaikan dan kejelekan. Lalu apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki (Muhammad) itu? Jika yang dia katakan adalah baik, maka aku akan menerimanya. Dan apabila yang dia katakan adalah jelek, maka aku akan  meninggalkannya.
Thufail melanjutkan ceritanya,
Lalu aku tetap tinggal di tempat tersebut hingga Rasulullah pulang ke rumahnya. Dari belakang aku mengikuti Rasulullah. Dan ketika beliau masuk ke dalam rumahnya, aku juga turut masuk. Aku berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya semua kaummu berkata kepadaku bahwa kamu adalah begini dan begitu. Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku hingga aku menyumpalkan kapas ke dalam kedua telingaku agar aku tidak mendengar perkataanmu. Namun Allah menghendaki aku mendengar sedikit perkataanmu. Aku dapati perkataanmu sangat indah. Sampaikan kepadaku tentang urusanmu.”
Lalu Muhammad menjelaskan masalahnya kepadaku dan membacakan surat al-Ihlas dan al-Falaq kepadaku. Demi Allah aku tidak pernah mendengar perkataan yang lebih baik dari perkataan tersebut. Aku belum masalah yang lebih  adil dari urusan Muhammad.
Seketika itu juga aku membentangkan kedua tanganku dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah  melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Lalu aku masuk Islam.
****
Aku tinggal di Makkah beberapa saat. Aku belajar agama Islam dan menghafal beberapa ayat yang mudah aku hafal. Dan ketika aku berniat kembali menemui kaumku aku berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku adalah orang yang sangat ditaati oleh kaumku. Aku akan pulang menemui mereka dan menyeru mereka agar masuk ke dalam Islam. Berdoalah kepada Allah agar memberikan tanda kepadaku yang membantuku untuk menyeru mereka ke dalam Islam.” Lalu Rasulullah `, berdoa, “Ya Allah berikanlah tanda padanya.”
Lalu aku pergi menemui kaumku. Dan ketika aku berada di sebuah tempat yang mulia di rumah mereka, terdapat cahaya yang berada di antara kedua mataku. Cahaya itu seperti cahaya lampu. Aku berdoa, “Ya Allah janganlah engkau meletakkan cahaya itu di antara kedua mataku. Aku takut jika mereka mengira bahwa tanda itu adalah siksa karena aku meninggalkan agama mereka.
Akhirnya cahaya itu berpindah ke ujung cemetiku. Semua manusia menyaksikan cahaya itu. Seakan-akan cahaya tersebut adalah sapu tangan yang tergantung di ujung cemetikul. Lalu aku turun menemui mereka dari bukit. Ketika aku turun dari bukit ayahku menemuiku. Ayahkan adalah orang yang sudah sangat tua renta. Aku berkata, “Menyingkirlah engkau dariku wahai ayahku, karena saat ini aku bukanlah pemeluk agamamu dan bukanlah engkau  pemeluk agamaku.” Ayahku bertanya, “Mengapa bisa begitu wahai anakku?” Aku menjawab, “Aku sudah masuk ke dalam agama Muhammad `.
Ayahku menjawab, “Wahai anakku, agamaku adalah agamamu.” Aku bertanya, “Mandilah engkau wahai ayahku kemudian dan sucikanlah pakaianmu. Setelah itu datanglah kepadaku. Aku akan mengajarimu apa yang sudah diajarkan kepadaku.”
Kemudian ayahku pergi dan mandi. Setelah itu ayahku datang padaku. Lalu aku menawarkan Islam padanya. Akhirnya ayahku masuk ke dalam agama Islam.
Setelah itu datanglah istriku. Aku berkata, “Menyingkirlah engkau dariku wahai istriku, karena saat ini aku bukanlah pemeluk agamamu dan bukanlah engkau pemeluk agamaku.” Istriku bertanya, “Demi ayah dan ibuku, ada apa denganmu?” Aku menjawab, “Agama Islam telah memisahkan antara diriku dan dirimu. Aku telah menganut agama nabi Muhammad.” Istriku menjawab, “Agamaku adalah agamamu juga.” Lalu aku berkata, “Pergilah dan bersucilah dengan menggunakan air Dzis Syara. Dzi Syara adalah nama sebuah patung milik kabilah Daus. Di sekelilingnya terdapat air yang mengalir dari gunung. Lalu istriku berkata, “Demi ayah dan ibuku, tidakkah engkau sedikitpun takut pada  Dzi Syara jika berbuat sesuatu kepada perempuan?” Aku berkata, “Demi Dzat Yang memiliki Dzi Syaro, celakalah kamu,,, aku perintahkan kepadamu, pergilah dan mandilah di tempat yang jauh dari manusia. Aku yang akan menjaminmu bahwa batu yang tidak berdaya itu tidak akan berbuat sedikitpun kepadamu.”
Akhirnya istriku pergi dan bersuci lalu datang lagi kepadamu. Aku menawarkan agama Islam kepadanya dan diapun masuk ke dalam agama Islam.
Kemudian aku berdakwa kepada kabilah Daus. Dan aku dapati mereka lambat sekali menerima seruanku kecuali Abu Hurairah. Dia adalah orang yang paling cepat sekali menerima dakwahku.
Thufail melanjutkan ceritanya,
Lalu aku pergi menghadap Rasulullah di Makkah. Aku pergi bersama Abu Hurairah. Lalu nabi` bertanya kepadaku, “Apa yang kau hadapi wahai Thufail?” Aku menjawab, “Hati yang tertutup oleh tirai penghalang kebenaran, dii atasnya terdapat kekufuran yang sangat besar. Sungguh penduduk Daus sudah terkalahkan oleh kefasikan dan kemaksiatan.”
Lalu Rasulullah berdiri kemudian mengambil air wudlu dan menunaikan shalat. Setelah selesai menunaikan shalat, beliau mengangkat tangannya ke atas langit. Abu Hurairah berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah melakukan hal tersebut aku sangat takut jika beliau mendoakan kejelekan kepada kaumku kemudian mereka binasa.” Lalu aku berkata, “Alangkah celakanya kaumku.”
Namun ternyata Rasulullah berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus, Ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus, ya Allah berilah petunjuk kepada kabilah Daus.”
Lalu Rasulullah memalingkan wajahnya kepada Thufail dan berkata, “Pergilah menemui kaummu dan bimbinglah mereka kemudian ajaklah mereka masuk ke dalam Islam.”
Thufail berkata, “Dan ketika aku kembali pada kaumku, ternyata waktu itu juga Rasulullah ` hijrah ke Madinah. Sesudah itu terjadilah perang Badar, Uhud dan Khandaq. Lalu aku menghadap Rasulullah ` dan aku membawa delapan puluh rumah kabilah Daus dalam keadaan Islam dan Islam mereka sudah sangat bagus. Melihat hal tersebut Rasulullah merasa senang dengan kami. Lalu Rasulullah memberikan kepada kami dan juga umat Islam ghanimah dari perang Khaibar. Kami berkata, “Wahai Rasulullah jadikanlah kami pasukan sayap kananmu di setiap peperangan. Berilah kami gelar “Al-Mabrur”.
Thufail berkata, “Aku tetap tinggal bersama Rasulullah hingga terjadilah peristiwa penaklukan kota Makkah. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, utuslah aku pada Dzil Kafain, (berhala milik Amr bin Hamamah). Aku akan membakarnya. Rasulullah mengizinkannya. Lalu Thufail pergi bersama satu rombongan ekspedisi (sariyyah) dari kalangan kaumnya menuju patung-patung kabilahnya.
Ketika Thufail telah sampai di patung tersebut dan hendak membakarnya, para wanita, laki-laki dan anak-anak berkumpul di sekelilingnya.  Mereka menunggu petaka yang akan menimpa Thufail. Mereka menunggu datangnya petir yang akan menyambarnya jika dia mencelakakan patung mereka yang bernama Dzil Kaffain.
Akan tetapi Thufail menghadap patung tersebut dalam keadaan disaksikan oleh para pemujanya. Lalu Thufail menyalakan api tepat di hatinya seraya berkata dengan kasar, “Wahai Dzil Kaffain, aku bukanlah pemujamu. kelahiran kami lebih dulu daripada kelahiranmu. Sungguh aku telah mengisi hatimu dengan kobaran api.”
Seketika itu juga api melahap patung tersebut bersamaan dengan itu terlahap pula kesyirikan kabilah Daus. Akhirnya seluruh penduduk kabilah Daus memeluk Islam dan kualitas Islam mereka sangat bagus.
****
Setelah itu Thufail selalu berada di dekat Rasulullah ` hingga beliau menghadap Allah k.
Dan ketika tampuk kepemimpinan beralih pada sahabat beliau yang bernama Abu Bakar, Thufail menyerahkan sepenuh dirinya, pedangnya dan anak-anaknya untuk taat kepada khalifah Rasulullah.
Ketika perang Riddah berkecamuk untuk memerangi orang-orang yang murtad, Thufail ikut serta dalam pasukan kaum Muslimin untuk memerangi pasukan Musailamah al-Kadzâb beserta anaknya yang bernama Amr.
Dalam perjalanannya ke Yamamah Thufail bermimpi. Lalu dia bertanya kepada para sahabatnya, “Sungguh aku bermimpi. Tolong tafsirkanlah mimpi tersebut.” Para sahabatnya bertanya, “Engkau bermimpi melihat apa?” Thufail menjawab, “Aku bermimpi bahwa kepalaku dicukur gundul dan ada burung yang keluar dari mulutku, lalu ada perempuan yang memasukkanku ke dalam perutnya. Pada waktu itu datanglah putraku, Amr. Dia memintaku untuk bersegera namun dia dihalang-halangi dariku.”
Lalu mereka berkata, “Itu adalah tanda yang baik.” Lalu Thufail berkata, “Demi Allah aku sudah menafsirkan mimpi tersebut. Adapun mengenai kepala yang dicukur, maka itu menunjukkan kepala yang akan dipotong. Sedangkan burung yang keluar dari mulutku, maka itu adalah nyawa yang keluar dari jasadku. Sedangkan perempuan yang memakanku tafsirnya adalah bumi yang akan memakan jasadku setelah dikuburkan. Sungguh aku sangat berharap untuk mati syahid. Sedangkan permintaan anakku kepadaku maka tafsirnya adalah, anakku meminta mati syahid sebagaimana aku, dan ternyata Allah mengizinkannya namun terjadi sesudahku.”
****
Dalam peperangan Yamamah sahabat yang mulia, Thufail bin Amr mendapatkan ujian yang sangat besar sekali. Hingga dia tersungkur mati syahid di tanah peperangan.
Sedangkan putranya yang bernama Amr masih terus berperang hingga merasa lemah karena banyaknya luka yang ada di tubuhnya. Telapak tangan kanannya putus. Dia pulang dari Yamamah dalam keadaan kehilangan ayahnya dan telapak tangannya yang kanan.
****
Suatu hari  pada masa kekholifahan Umar bin Khattab Amr bin Thufail masuk ke rumah Umar Al-Faruq. Lalu dihidangkan makanan di depannya. Semua orang duduk di sekeliling Umar. Umar mengajak mereka untuk menyantap makanan tersebut. Lalu Amr menyingkir dari makanan tersebut. Akhirnya Umar al-Faruq bertanya padanya, “Apakah kamu menyingkir karena malu dengan tanganmu yang putus tersebut?” Amr menjawab, “Betul wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menyantap makanan ini hingga engkau mencampurnya dengan tanganmu yang terputus terputus. Demi Allah tidak ada seorangpun yang anggota badannya sudah berada di surga kecuali engkau. (yang dimaksud Umar adalah tangannya yang sudah mendahuluinya masuk ke dalam surga).
Bayang-bayang kesyahidan selalu terlihat oleh Amr semenjak kesyahidan ayahnya. Dan ketika terjadi peperangan Yarmuk[2], seketika itu juga dia bersegera bersama kaum Muslimin untuk berperang hingga meraih kesyahidan yang telah lama dia dan ayahnya idam-idamkan.
Semoga Allah melimpahkan belas kasihnya kepada Thufail bin Amr ad-Dausi. Sungguh dia telah mati syahid, dia adalah ayah yang memiliki putra yang juga mati syahid.[3]

[1] Sebuah dataran di daerah tepian pantai yang dekat dengan Laut Merah
[2] Perang Yarmuk adalah salah satu peperangan yang sering diceritakan dalam sejarah. Terjadi pada tahun 15 H, pada peperangan tersebut Umat Islam mengalami kemenangan yang gemilang mengalahkan bangsa Romawi.

WAHSYI BIN HARB

0 komentar
WAHSYI BIN HARB

“Wahsyi bin Harb membunuh orang yang terbaik sesudah nabi Muhammad namun juga membunuh orang yang terjelek. (Ahli sejarah)
Siapakah orang yang melukai hati Rasulullah Saw. ketika membunuh paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib pada perang Uhud? Siapakah yang menyenangkan hati beliau dengan membunuh Musailamah al-Kadzdzab pada perang Yamamah.
Dia adalah Wahsyi bin Harb, atau yang mempunyai julukan Abi Dasamah. Wahsyi mempunyai kisah yang sangat menarik, menyedihkan dan menegangkan. Siapkanlah pendengaran anda untuk mendengarkan kisah yang akan diceritakan sendiri oleh Wahsyi bin Harb. Wahsyi bercerita,
Dulu aku adalah seorang budak muda milik Muth’im bin ‘Adi, salah seorang pemimpin suku Quraisy. Pamannya bernama Thu’aimah. Thuaimah terbunuh di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib pada perang badar. Muth’im bin Adi sangat sedih sekali dengan kematiannya. Dia bersumpah demi Latta dan ‘Uzza untuk membalas dendam kematian pamannya, dia juga berjanji akan membunuh pembunuh pamannya.
Muth’im bin Adi menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk membunuh Hamzah.
Tidak berselang lama setelah perang Badar kaum Qurasiy mengadakan kesepakatan untuk keluar ke Uhud, melampiaskan pembalasan  mereka kepada Muhammad bin Abdillah, dan membalas kematian saudara-saudara mereka yang terbunuh di perang Badar. Kaum Quraisy menyiapkan pasukan perang mereka. Mereka menyatukan persekutuan mereka, lalu menyerahkan kepemimpinan mereka kepada Abu Sufyan bin Harb.
Abu Sufyan mempunyai gagasan untuk mengikutsertakan para pemimpin Quraisy yang mempunyai anak, ayah, saudara atau kerabat mereka yang  terbunuh di Badar. Hal itu agar menambah semangat pasukan mereka dalam berperang dan meminimalisir pasukan yang melarikan diri. Di antara perempuan yang ikut serta dalam peperangan tersebut adalah istri Abu Sufyan, Hindun binti ‘Utbah. Semua saudaranya, pamannya dan ayahnya terbunuh dalam perang Badar.
Ketika pasukan Quraisy hampir berangkat, Jubair bin Muth’im menoleh ke arahku dan berkata, “Wahai Abu Dasamah (Wahsyi), apakah engkau ingin membebaskan dirimu dari perbudakan?”
Aku bertanya, “Siapakah yang akan membebaskanku?”
Jubair berkata, “Aku yang akan membebaskanmu.”
Aku bertanya, “Apa syaratnya?”
Jubair menjawab, “Jika engkau berhasil membunuh Hamzah bin Abdil Muthalib, paman nabi Muhammad, demi pamanku Thu’aimah bin ‘Adi, aku akan membebaskanmu.”
Aku bertanya, “Siapakah yang akan memberikan jaminan padaku dengan janjimu?”
Jubair berkata, “Terserah kamu. Aku akan mempersaksikan janjiku ini kepada semua manusia.”
Aku menjawab, “Aku akan melakukannya. Dan aku akan merdeka.”
Wahsyi melanjutkan ceritanya,
Aku adalah orang Habasyi, aku adalah pelempar panah Habasyi yang tidak pernah meleset sama sekali.
Akhirnya aku mengambil tombakku dan aku berangkat dengan pasukan kaum musyrikin. Aku berjalan di barisan belakang di dekat perempuan. Aku tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam peperangan tersebut.
Setiap kali aku melewati Hindun, istri Abu Sufyan atau ketika dia melewatiku dan melihat tombak yang berkilauan di tanganku di bawah terik matahari, dia berkata, “Wahai Abu Dasamah! Sembuhkanlah luka hati kami (dengan membunuh muslimin), niscaya engkau akan merdeka.”
Ketika kami sampai di Uhud dan dua pasukan bertemu, aku mencari-cari keberadaan Hamzah bin Abdul Muthalib. Sebelumnya aku sudah mengenalnya. Hamzah tidak asing bagi siapapun, karena dia memakai bulu burung onta di kepalanya untuk menunjukkan kepahlawanannya. Sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang perkasa dari orang-orang Arab yang pemberani.
Tidak berselang lama, aku melihat Hamzah bin Abdil Muthalib. Hamzah berperang dengan dahsyat di arena peperangan, laksana unta yang sangat ganas. Dia menebas leher musuh dengan sangat mengerikan. Tidak ada orang yang bertahan dengan kuat di depannya dan tidak ada orang yang bisa menghadapinya.
Ketika aku bersiap-siap untuk membunuhnya, aku bersembunyi di balik pohon atau di balik batu besar sambil menunggu agar dia mendekat padaku. Tiba-tiba ada salah seorang penunggang kuda yang mendahuluiku. Orang itu bernama Siba’ bin Abdul ‘Uzza. Dia berkata, “Wahai Hamzah, hadapilah aku, hadapilah aku..”
Lalu Hamzahpun menghadapinya seraya berkata, “Marilah berhadap-hadapan denganku wahai anak musyrik! Majulah!”
Seketika itu juga Hamzah bin Abdil Muthalib menyabetkan pedangnya dan mengenai Siba’. Siba’ bin Abdul ‘Uzzah tersungkur mati dengan bersimbah darah di hadapan Hamzah.
Pada waktu itulah aku mencari posisi untuk membunuh Hamzah. Aku mengarahkan tombakku. Dan ketika aku sudah tenang, aku melemparkan tombakku hingga mengenai bawah perutnya dan tombak itu tembus di bagian antara dua kakinya.
Hamzah melangkah dua langkah dengan berat ke arahku. Kemudian Hamzah terjatuh dan tombak masih tertancap di tubuhnya. Aku membiarkan tombakku dalam tubuhnya sampai aku sangat yakin bahwa dia benar-benar sudah meninggal. Kemudian aku menghampiri jasadnya dan mencabut tombakku dari tubuhnya, setelah itu aku kembali ke tenda. Setelah itu aku duduk di dalam tenda, karena aku tidak mempunyai tujuan selain membunuh Hamzah. Aku membunuhnya agar aku bisa merdeka.
Peperangan berlangsung sangat sengit. Banyak di antara mereka yang tetap bertahan dalam peperangan namun ada juga yang melarikan diri. Hanya saja kekalahan nampak pada pasukan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Banyak sekali di antara mereka yang meninggal dunia.
Pada waktu itulah pergilah Hindun binti ‘Utbah menuju korba-korban tewas dari kalangan kaum muslimin. Di belakang Hindun terdapat para wanita dari kalangan musyrikin yang mengikuti Hindun. Mereka berdiri di depan mayat kaum muslimin, mereka membelah perut mayat-mayat kaum muslimin, mencukil mata mereka, memotong hidung mereka, bahkan memotong telinga mereka.
Mereka membuat potongan telinga dan hidung kaum muslimin menjadi kalung dan anting-anting lalu memakainya. Di antara mereka ada yang menyerahkan kalung dan anting kuping serta hidung itu kepadaku. Mereka berkata, “Kalung dan anting itu untukmu wahai Abu Dasamah! Simpanlah, karena harganya mahal!”
Ketika perang sudah mereda dan usai. Aku bersama dengan para pasukan kembali ke Makkah. Jubair bin Muth’im berbuat baik padaku dengan menepati janjinya, memerdekakan diriku. Akhirnya aku merdeka.
****
Namun tenyata agama yang dibawa oleh Muhammad semakin hari semakin berkembang. Pengikutnya semakin hari semakin bertambah. Dan setiap kali agama Muhammad bertambah kuat, aku semakin dilanda kesusahan. Aku selalu merasakan ketakutan dan kecemasan dalam diriku.
Aku terus merasakan hal tersebut, hingga akhirnya Rasulullah Saw. beserta pasukannya yang sangat banyak berhasil menaklukkan kota Makkah. Pada waktu itu aku pergi melarikan diri untuk mencari aman di Thaif.
Namun ternyata lambat laun kebanyakan penduduk Thaif juga memeluk Islam. Mereka menyiapkan utusan mereka untuk bertemu dengan nabi Muhammad serta mengikrarkan keislaman mereka.
Aku semakin bertambah menyesal dan bertambah bingung. Dunia yang luas terasa sempit olehku. Semua jalan terasa buntu. Aku berkata dalam diriku, “Aku akan pergi ke Syam, ke Yaman, atau ke negeri-negeri lain. Demi Allah, ketika aku dalam kondisi yang sangat kesusahan seperti ini, tiba-tiba datang seorang yang mau berbelas kasihan dan memberikan nasehat padaku. Orang tersebut berkata, “Celakalah kamu wahai Wahsyi! Sungguh Muhammad tidak akan membunuh seorangpun yang masuk ke dalam agamanya dan mau bersyahadat dengan benar.”
Setelah mendengar nasihatnya, seketika aku langsung keluar dan pergi menuju Madinah untuk mencari nabi Muhammad. Ketika aku sampai di Madinah, aku mencari tahu keberadaan beliau, dan ternyata beliau berada di masjid. Akupun memberanikan diri masuk ke dalam masjid dengan sangat takut dan khawatir. Aku pergi menghadapnya hingga aku berada di atas kepalanya. Aku mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya.”
Ketika beliau mendengar ucapan dua kalimat syahadat, beliau mengangkat pandangannya ke arahku. Ketika beliau mengetahui bahwa yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah diriku, belaiau kembali menundukkan pandangan beliau. Rasulullah bertanya, “Apakah engkau Wahsyi?”
Aku menjawab, “Betul wahai Rasulullah.”
Rasulullah berkata, “Duduklah dan ceritakanlah kepadaku bagaimana engkau membunuh Hamzah?”
Lalu aku duduk dan menceritakan peristiwa pembunuhan Hamzah kepada beliau. Ketika aku selesai menceritakannya, Rasulullah memalingkan wajahnya dariku seraya berkata, “Celakalah kamu wahai Wahsyi! Sembunyikanlah wajahku dariku. Aku tidak akan melihat wajahmu lagi setelah hari ini.”
Sejak hari itulah aku selalu menghindarkan wajahku agar tidak sampai terlihat oleh Rasulullah Saw.. Apabila para sahabat duduk di depan beliau, aku justru duduk di belakang beliau. Aku terus melakukan hal tersebut hingga Rasulullah wafat.
****
Wahsyi melanjutkan ceritanya, meskipun aku tahu bahwa agama Islam menghapus semua perbuatan di waktu kafir, namun aku masih selalu terbayang-bayang dengan perbuatan keji yang aku lakukan maupun musibah besar yang aku timpakan kepada Islam dan kaum muslimin. Aku selalu mencari kesempatan untuk melakukan perbuatan yang dapat menghapuskan kesalahan masa laluku.
****
Ketika Rasulullah Saw. wafat dan kepemimpinan kaum muslimin berada di tangan sahabatnya, Abu Bakar, penduduk Bani Hanifah, para pengikut Musailamah al-Kadzdzab murtad dari Islam. Akhirnya khalifah Rasulullah Saw. Abu Bakar mengerahkan pasukannya untuk memerangi Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah kepada Islam.
Aku berkata dalam diriku, “Wahai Wahsyi, Demi Allah, sungguh ini merupakan kesempatan yang harus kau gunakan. Jangan sampai kesempatan ini lepas darimu.”
Lalu aku keluar bersama tentara kaum muslimin. Aku membawa tombak yang aku gunakan untuk membunuh pemuka para syuhada’ Hamzah bin Abdul Muthalib. Aku bertekad kuat dalam diriku untuk melemparkan tombak tersebut ke tubuh Musailamah hingga dia tewas, atau aku yang akan menemui syahid.
Ketika kaum muslimin bertempur dengan para pengikut Musailamah dan menyerang musuh-musuh Allah di kebun kematian,[1] aku mengawasi gerak-gerik Musailamah. Aku melihat Musailamah berdiri dengan pedang di tangannya. Aku juga melihat ada salah seorang sahabat dari kalangan anshar yang juga mengintainya seperti diriku. Kami berdua-dua bertekad untuk membunuhnya.
Ketika aku sudah berada pada posisi yang sangat strategis, aku menyiapkan tombakku. Ketika sudah siap, aku langsung  melemparkannya ke arah Musailamah. Dan ternyata tombakku berhasil menembus tubuhnya.
Pada saat yang sama ketika aku melemparkan tombakku, orang anshar itu berada di atas tubuh Musailamah lalu menyabetkan pedangnya ke tubuhnya dengan sekali sabetan.
Allah lebih tahu, siapa sebenarnya yang membunuhnya. Jika ternyata aku yang berhasil membunuhnya, maka sungguh aku sudah membunuh sebaik-baik orang sesudah nabi Muhammad dan juga membunuh sejelek-jelek manusia.” 

[1] Kebun tersebut digunakan oleh para pengikut Musailamah untuk menyelamatkan diri. Dinamakan kebun kematian karena banyaknya korban tewas dari pasukan Musailamah di kebun tersebut.

Sa’id bin Zaid

0 komentar

Sa’id bin Zaid

“Ya Allah, jika Engkau mencegahku dari kebaikan ini, janganlah Engkau mencegah anakku, Said dari kebaikan ini.”
Zaid bin Amir bin Nufail berdiri jauh dari keramaian manusia. Dia menyaksikan hari raya Orang Quraisy yang berbeda dengan hari rayanya. Dia melihat ada orang yang memakai surban yang sangat mahal di kepala mereka.  Mereka saling membangga-banggakan pakaian-pakaian mereka dari Yaman yang sangat mahal. Dia juga menyaksikan para wanita dan anak-anak mengenakan baju dan sutra yang sangat indah dan berharga.
Zaid juga menyaksikan hewan-hewan ternak yang dihias dengan berbagai hiasan digiring oleh para tawanan, hewan-hewan ternak itu akan disembelih dan dijadikan persembahan untuk tuhan mereka.
Zaid berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding Ka’bah. Dia berkata,
“Wahai orang-orang Quraisy, kambing itu diciptakan oleh Allah. Dialah Yang menciptakan hujan kemudian kambing kalian menjadi kenyang dengan turunnya hujan. Dari air hujan tumbuhlah rerumputan yang dimakan oleh hewan kalian hingga kenyang. Namun setelah itu kalian menyembelihnya untuk selain Allah. Sungguh aku melihat bahwa kalian adalah kaum yang bodoh.”
Hal itu memancing kemarahan Khattab, ayah Umar bin Khattab. Dia berdiri dan memukulnya kemudian berkata, “Celakalah kamu! Kami tahan kesabaran kami mengucapkan perkataan bodoh itu, dan ketika kau mengatakan hal ini kesabaran kami hilang.” Khattab memprovokasi orang-orang bodoh di antara kaumnya. Akhirnya mereka menyiksa Zaid dan terus menyiksanya hingga membawanya ke gunung hira’. Khattab menyerahkan Zaid kepada pemuda dari Quraisy. Khattab memerintahkan mereka agar menghalang-halangi Zaid untuk masuk ke Makkah. Namun Zaid berhasil masuk ke Makkah secara sembunyi-sembunyi.
Ketika orang Quraisy lengah Zaid pergi berkumpul dengan sahabatnya, di antara mereka adalah  Waraqah bin Naufal, Abdullah bin Jahsy, Utsman bin Haris,   Umaimah binti Abdul Muthalib,  bibi Muhammad bin Abdillah. Mereka membahas kesesatan yang terjadi di kalangan penduduk Arab. Zaid berkata kepada para sahabatnya, “Demi Allah, sungguh kalian tahu bahwa kaum kalian berada dalam kesia-siaan. Mereka menyimpang dan menyelisihi agama nabi Ibrahim. Oleh karena itu carilah agama yang benar untuk kalian jika kalian menginginkan keberuntungan.
Akhirnya empat orang tersebut berpencar pergi ke rumah para rahib dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang masih berpegang teguh dengan agama nabi Ibrahim maupun agama lain. Mereka mencari agama yang hanif (lurus), yaitu agama nabi Ibrahim.
Sedangkan Waraqah bin Naufal akhirnya masuk ke dalam agama Nasrani. Sedangkan Abdullah bin Jahsy dan Said bin Zaid tidak memeluk satu agamapun.
Said bin Zaid bin Naufal memiliki kisah tersendiri. Kita simak bersama penuturan langsung darinya. Said bercerita,
Aku pergi menghadap orang Yahudi dan Nasrarni, namun aku berpaling dari mereka karena aku tidak mendapatkan ketenangan di sana. Aku pergi ke penjuru manapun untuk mencari agama Ibrahim, hingga aku pergi ke negeri Syam. Aku teringat dengan salah seorang rahib yang mempunyai ilmu tentang kitab. Aku mendatanginya dan menceritakan masalahku kepadanya. Rahib itu berkata, “Wahai orang Makkah, aku melihat engkau sedang mencari agama Ibrahim?” Aku menjawab, “Betul, itu yang aku inginkan.” Rahib berkata, “Sungguh engkau sedang mencari agama yang saat ini sudah tidak ada. Namun kembalilah engkau ke negerimu, karena Allah mengutus seorang nabi dari negerimu yang akan memperbarui agama Ibrahim. Jika engkau bertemu dengannya maka bergurulah engkau darinya!”
Akhirnya Zaid kembali ke Makkah melangkahkan kakinya untuk mencari nabi yang ditunggu-tunggu.
Di tengah perjalanannya Allah mengutus nabi Muhammad sebagai RasulNya dengan membawa petunjuk dan kebenaran. Namun Zaid tidak menjumpainya, karena ketika dalam tengah perjalanan tiba-tiba ada sekumpulan orang arab yang membunuhnya sebelum dia sampai ke Makkah. Tampak kesedihan di dua matanya karena ingin melihat Rasulullah Saw.
Ketika Zaid menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia mengangkat wajahnya menghadap langit seraya berdoa, “Ya Allah, meskipun Engkau menghalangiku dari kebaikan ini, namun janganlah engkau menghalangi putraku darinya.”
****
Rupanya Allah berkehendak untuk mengabulkan doa Zaid. Ketika Rasulullah menyeru manusia untuk masuk ke dalam agama Islam, putranya Said bin Zaid termasuk di kalangan orang-orang yang beriman kepada Allah dan beriman dengan risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad.
Hal itu tidak mengherankan, karena Said hidup di tengah keluarga yang tidak setuju dengan kesesatan kafir Quraisy. Said dididik di pangkuan seorang ayah yang hidup dalam keadaan mencari kebenaran. Ayahnya meninggal dalam keadaan berlari terengah-engah  mencari kebenaran.
Said tidak sendirian ketika beriman. Namun dia bersama istrinya, Fatimah binti Khattab,  saudari kandung Umar bin Khattab.
Pemuda Quraisy yang bernama Sa’id menghadapi siksaan kaumnya yang membuatnya pantas untuk meninggalkan islam, karena dahsyatnya siksaan tersebut. Namun dibalik pedihnya siksaan kaum Quraisy kepadanya untuk meninggalkan agama islam, ternyata dia dan istrinya berhasil menarik laki-laki dari Quraisy yang paling kuat, paling diperhitungkan, dan paling berbahaya. Ya, ternyata keduanya berhasil menjadi sebab masuk islamnya Umar bin Khattab.
Said bin Zaid bin Nufail menggunakan segenap tenaga mudanya untuk berkhidmat kepada Islam. Karena dia masuk islam dalam usia belum mencapai 20 tahun. Dia ikut serta dalam semua peperangan kecuali perang Badar. Said tidak ikut perang Badar karena suatu tugas yang dibebankan Rasulullah Saw. kepadanya.
Said juga turut serta dengan kaum musilmin dalam menggetarkan singgasana Kisra, dan menghancurkan kerajaan Kaisar Romawi. Di setiap pertempuran bersama dengan kaum muslimin Said mempunyai sikap yang mulia dan kokoh.
Barangkali kepahlawanannya yang paling menakjubkan adalah ketika berada dalam perang Yarmuk. Kita simak langsung setiap kisahnya langsung dari Said bin Zaid. Dia berkata,
Ketika dalam perang Yarmuk, jumlah kaum muslimin kurang lebih 24.000 pasukan. Sedangkan pasukan Romawi mengerahkan 120.000 pasukan. Mereka menghadang kami dengan langkah yang sangat berat. Seakan-akan mereka adalah gunung yang digerakkan oleh tangan yang tidak nampak. Para Uskup, kepala uskup dan para pendeta berada di depan mereka dengan membawa salib dan mereka membaca nyanyian-nyanyian. Di belakangnya para pasukan Romawi menirukan mereka dengan keras laksana suara gemuruh.
Ketika kaum muslimin melihat kondisi mereka, kaum muslimin kaget dan bingung dengan jumlah mereka yang banyak. Dalam hati mereka sedikit tercampur rasa takut.
Pada waktu itulah Abu Ubaidah bin al-Jarrah menghasung kaum muslimin untuk maju berperang. Dia berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan langkah kalian. Wahai hamba-hamba Allah, bersabarlah, karena kesabaran itu lebih baik daripada kekufuran dan merupakan perbuatan yang diridloi Allah. Sabar adalah penghilang aib. Lemparkanlah tombak-tombak kalian dan berlindunglah dengan perisai kalian. Diamlah kalian kecuali hanya untuk menyebut nama Allah Azza wa Jalla di dalam diri kalian. Dan aku akan menjadi pemimpin kalian, jika Allah menghendaki!”
Said berkata, “Pada waktu itu keluarlah seseorang dari barisan dan berkata kepada Abu Ubaidah, “Aku bertekad untuk meninggal saat ini. Apakah engkau mempunyai surat untuk kau kirimkan kepada Rasulullah?”
Abu Ubaidah menjawab, “Ya, aku mempunyai surat, engkau membacakannya dariku dan dari kaum muslimin, engkau berkata dalam surat itu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mendapati bahwa yang dijanjikan oleh Rabb kami adalah benar.”
Said berkata, “Setelah aku mendengar perkataannya aku melihat dia menghunus pedangnya yang tajam, kemudian berlari menghadap musuh-musuh Allah. Hingga aku langsung tiarap ke atas tanah, kemudian aku berdiri di atas lututku. Aku mengeluarkan tombakku dan melemparkannya hingga mengenai pasukan berkuda yang pertama kali menghadapku. Setelah itu aku melompat ke barisan musuh. Dan ternyata Allah telah mencabut rasa takut yang hinggap dalam hatiku. Semua manusia bertebaran di depan pasukan Romawi. Kaum muslimin terus menyerang mereka hingga Allah mengaruniakan kemenangan untuk kaum muslimin.
****
Setelah itu Said bin Zaid menyaksikan penaklukan kota Damaskus. Ketika Damaskus berhasil ditaklukkan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah menjadikannya sebagai gubernur Damaskus. Said bin Zaid adalah orang yang pertama kali menjadi memegang tampuk kekuasaan di Damaskus dari kalangan kaum muslimin.
****
Sedangkan pada masa pemerintahan Bani Umayyah, terjadi sebuah peristiwa yang menimpa Zaid. Peristiwa itu selalu dibicarakan oleh penduduk Madinah dalam kurun waktu yang lama.
Peristiwa tersebut bermula ketika Arwa binti Uwais mengaku bahwa Said bin Zaid telah merampas tanahnya dan menjadikan tanah tersebut sebagai milknya. Berita simpang siur itu menjadi perbincangan di kalangan kaum muslimin.
Akhirnya mereka mengadukan perkara itu kepada Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah. Marwan mengirimkan beberapa orang untuk menasehati Said bin Zaid dalam masalah tersebut. Akhirnya masalah yang sangat runyam itu semakin membuat sahabat Rasulullah ini tersudutkan.
Said bin Zaid berkata, “Kalian menganggap bahwa aku telah berbuat zalim padanya?! Bagaimana mungkin aku berbuat zalim padanya, padahal aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mencuri sejengkal tanah, maka kelak Allah akan menggantukan tujuh tanah di bumi di lehernya.”
Said kembali berkata, “Ya Allah, perempuan itu mengaku bahwa aku berbuat zalim padanya. Jika perempuan itu berdusta, maka butakanlah matanya dan masukkanlah dia ke dalam sumurnya yang menjadi perselisihan di antara kami. Nampakkanlah cahaya kebenaran pada tubuhku untuk menerangkan kaum muslimin bahwa aku tidak menzaliminya.”
Tidak berselang lama setelah Said mengucapkan doa tersebut, mengalirlah banjir bah dari gunung ‘Aqiq. Banjir seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.  Akhirnya tersingkaplah kebenaran dalam masalah tersebut. Kaum muslimin mengetahui bahwa Sa’id adalah benar.
Sebulan setelah peristiwa itu, perempuan tersebut mengalami kebutaan pada  matanya. Ketika dia berputar di tanahnya tersebut, dia terpeleset hingga masuk ke dalam sumurnya.
Abdullah bin Umar berkata, “Aku dan beberapa pemuda lain sering mendengar kata-kata, “Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Allah membutakan Arwa.”
Peristiwa seperti itu tidak mengherankan, karena Rasulullah Saw. bersabda, “Berhati-hatilah kalian dengan doa orang yang terzalimi, karena antara dirinya dengan Allah tidak ada penghalang sama sekali.”
Apalagi yang dizalimi adalah Said bin Zaid, salah seorang di antara sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk ke dalam surga?

Ali Bin Abi Tholib

0 komentar

Ali Bin Abi Tholib


… Berbicaralah dengan manusia dengan bahasa yang mudah dipahami (Ali ra).
Dilahirkan di Mekkah 32 tahun sejak kelahiran Rasulullah dan 10 tahun sebelum kenabian Muhammad bin Abdullah (Rasulullah). Nama lengkapnya Ali bin Abu Tholib bin Abdul Mutholib bin Hasyim al-Qursy al-Hasyimy. Satu kakek dengan Rasulullah, yaitu kakek pertama; Abdul Mutholin. Nama panggilannya Abul Hasan, kemudian Rasulullah memberikan nama panggilan lain, yaitu Abu Turob. Ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf al-Qursyiah al-Hasyimiah.
Mengenai pribadinya, wajahnya tampan, beliau berkulit sawo matang, kepalanya botak kecuali bagian belakang, matanya lebar dan hitam, pundaknya lebar (kuat), tangan dan lengannya kuat, badanya besar hampir-hampir gemuk dan tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek (sedang). Beliau adalah sosok laki-laki ceria dan banyak tertawa.
Pada tahun 2 Hijriah, Rasulullah menikahkan dengan putrinya, Fatimah. Beliau belum pernah menikah ketika menikahi Fatimah hingga wafatnya Fatimah. Fatimah wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah. Selama hidupnya beliau menikahi 9 wanita dengan 29 anak; 14 laki-laki dan 15 perempuan. Diantara putra beliau yang terkenal adalah Hasan, Husain, Muhammad bin al-Hanifah, Abbas dan Umar.
Pada masa jahiliyah(zaman sebelum kedatangan Islam), beliau belum pernah melakukan kemusyrikan dan perbuatan yang dilarang oleh Islam. Dalam sejarah kemunculan Islam, beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari anak-anak. Umurnya waktu itu 10 tahun. Pada waktu terjadi peristiwa hijrah umurnya 23 tahun dan ikut berhijrah bersama Rasulullah.
Setelah wafatnya Utsman akibat serangan yang dilakukan oleh pembrontak, beliau menjadi kholifah yang keempat pada tahun 35 Hijriah. Selama 4 tahun, 8 bulan dan 22 hari beliau memangku jabatan sebagai kholifah.
Beliau wafat pada tahun 40 Hijriah, tanggal 17 ramadhan, ketika hendak sholat subuh, di Kuffah (Iraq) setelah dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam (pengikut Khawarij). Umurnya ketika itu 63 tahun. Beliau wafat sebagai seorang syahid dan termasuk 10 orang yang dikabarkan akan masuk surga sebagaimana disabdakan Rasulullah. Mengenai tempat dikuburkannya para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang mengatakan dikubur di Kuffah. Pendapat lain dikuburkan di Madinah. Ada juga yang mengatakan bukan pada keduanya.
Betapa besar pengorbanan beliau dalam membela Islam. Ketika orang-orang musyrik bersepakat hendak membunuh Rasulullah, beliau menempati tempat tidur Rasulullah di rumahnya. Malam itu Rasulullah berhijrah.
Sebelum Rasulullah wafat, Rasulullah mengingkat persaudaraan antar Ali dan Sahal bin Hanif. Semua peperangan pada masa Rasulullah kecuali perang Tabuk, beliau tidak ikut. Waktu itu beliau diperintahkan Rasulullah untuk mengurusi dan memimpin kota Madinah. Kemudian orang-orang munafik menyebarkan fitnah atas pribadinya. Beliau pun akhirnya datang kepada Rasulullah melaporkan fitnah orang munafik terhadapnya. “Wahai Rasulullah, Kamu suruh aku memimpin bagi para wanita dan anak-anak?” tanya Ali. Rasulullah menjawab; “ Tidakkah kamu ridho menempati kedudukan Harun bagi kekuasaan Musa (untuk mengurusi perkara yang penting), padahal kamu tahu bahwa tidak ada nabi setelahku”(HR.Muslim). Dalam banyak peperangan, beliaulah yang membawa bendera Rasulullah (Islam).
Pada waktu terjadi perang Khoibar, Rasulullah bersabda; “ suatu saat nanti, niscaya aku akan berikan bendera (islam) kepada seseorang yang tangganya terbuka, seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Malam itu semua sahabat bertanya-bertanya dalam hati, kepada siapa bendera itu diberikan. Paginya, mereka semua berharap menjadi orang yang diberi bendera itu. Tiba-tiba Rasulullah berkata; “Di na Ali?” seseorang menjawab; “Matanya sedang sakit.” Kemudian Rasulullah mendatanginya. Rasulullah meludahi matanya sambil berdo’a. Dengan izin Allah, sakitnya matanya hilang. Bendera itu pun diberikan padanya(HR.Bukhori).
Masa kekhalifannya banyak menghadapi perselisihan. Muawwiyah bin Abu Sufyan r.a. dan beberapa sahabat menentangnya kerena beliau lambat memberikan hukum qisos pembunuh Utsman. Hingga kemudian mereka enggan membaiat dan mengakui menjadi kholifah. Dari sinilah muncul perselisihan antara para sahabat. Pada tahun 36 Hijriah terjadi peristiwa al-Jamal yaitu perselisihan antara Ali dengan Aisyah. Pada tahun 37 Hijriah terjadi pertiwa Shiffin, yaitu perselisihan antara Ali dengan Muawwiyah. Pada tahun 40 Hijriah terjadi peristiwa Nahrawan, yaitu perselisihan antara Ali dengan kaum Khawarij.
Kurang lebih ada 586 hadits yang diriwayatkan beliau. Diantara riwayat hadits itu; ketika hari kiamat, Rasulullah bersabda; “Allah mengisi rumah-rumah dan kuburan manusia dengan api. Mereka sibuk hingga melupakan sholat wusto (ashar) hingga matahari terbenam (HR.Bukhori).
Diantara kata-kata dan nasehat beliau;
    • “Takwa adalah takut kepada Dzat yang Agung, melaksanakan perintahnya, ridho dengan yang sedikit, penuh persiapan untuk menghadapi perjalan panjang (kematian).”
    • “Berbicaralah dengan manusia dengan bahasa yang mudah dipahami. Apakah kalian ingin mendustakan Allah dan Rasul-Nya.
    • “Jangan Sekali-kali berbuat dholim jika kamu diberi kekuasaan, kedholiman adalah sumber kejahatan yang menyebabkan penyeselan. Boleh jadi matamu tertidur pulas, sedangkan mata orang teraniaya selalu terjaga, mendoakan kamu (dengan keburukan) sedangkan Allah tidak pernah tertidur.” (diantara syair-syairnya)
    • Sebelum wafatnya beliau berpesan; “Aku nasehatkan kalian supaya bertakwa kepada Allah, Tuhan Kalian. Dan jangan sekali-kali mati melainkan tetap dalam Islam. Firman Allah: “Dan berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah dan jangan sekali-kali bercerai berai.” Saya pernah mendengar